Novel Gemblak Terakhir Karya Dua Jurnalis Senior Ini Diluncurkan di Blitar
Imung Mulyanto (kiri) dan Sasetya Wilutama, dua sahabat yang menjadi penulis novel Gemblak Terakhir memamerkan novel mereka yang akan diluncurkan di Blitar. --Istimewa
HARIAN DISWAY – Imung Mulyanto dan Sasetya Wilutama, dua sahabat yang menjadi penulis novel Gemblak Terakhir, memilih Blitar sebagai kota tempat peluncuran bukunya, pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Kebetulan di kota itu akan berlangsung acara temu kangen dengan sesama eks anggota Sanggar Patriana, sebuah grup teater di Surabaya yang menampung ekpresi berkesenian kedua penulis itu sejak lama.
“Walaupun sanggar tidak aktif tapi kami sering bertemu minimal setahun sekali. Pertemanan kami sudah 40 tahun sehingga seperti saudara. Nah, kali ini eks anggota sanggar berkumpul untuk menyaksikan peluncuran novel kami berdua,” kata Sasetya.
BACA JUGA: Film The Odyssey Dongkrak Penjualan Novel Homer hingga 700 Persen di Inggris
Ya, Sasetya dan Imung telah lama berkecimpung di dunia yang sama. Bahkan kedua penulis juga berprofesi serupa yakni sebagai jurnalis. Meski tidak aktif, mereka masih terikat kuat dengan Sanggar Patriana yang memberikan wawasan berkesenian.
Dijelaskan oleh Sasetya, Sanggar Patriana didirikan oleh almarhum Kasmadi Patrianus Mariana. Pada zamannya, Sanggar Patriana merupakan salah satu grup teater besar di Surabaya yang berkonsep pendidikan teater.
Karena membuka pintu untuk siapa saja untuk bergabung, maka tak heran jika tak satupun anggota teater itu merupakan seniman murni. Sebagian besar adalah guru, dosen, birokrat dan wartawan yang mempunyai kepedulian terhadap seni.
BACA JUGA: 4 Novel Klasik Tiongkok yang Mengubah Sejarah Sastra Dunia
Itulah mengapa Sasetya dan Imung juga tertarik aktif di sanggar tersebut. “Beberapa jurnalis seperti kami juga menjadi anggota seperti Riamah MD dan almarhum Viddy Alimahfoed,” terang Sasetya, mengulik sejarah sanggar.
Di antara teman-teman kedua penulis yang rata-rata berusia 60 tahun ke atas yang akan bereuni dengan membawa pasangan masing-masing, peluncuran dilangsungkan secara sederhana dengan menggelar dikusi oleh kedua penulis.
Selain diskusi, digelar selamatan peluncuran yang diharapkan mendorong penerbitan novel lainnya oleh eks anggota sanggar. "Sebab masih banyak yang tetap produktif dengan berbagai karyanya. Saya juga tengah menulis novel dalam bahasa Jawa," katanya.
BACA JUGA: Novel Zoro One Piece Resmi Berlanjut Juli 2026, Masa Lalu Sang Pendekar Akhirnya Diperluas
Sebagai gambaran, novel Gemblak Terakhir berkisah tentang kehidupan warok dan gemblak di zaman dulu. Sasetya dan Imung berharap, novel berlatar belakang budaya tersebut dapat memperkaya khasanah dunia kesusastraan di Indonesia.
“Sebagai karya fiksi, kisah dalam novel ini murni hasil imajinasi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan cerita hal itu hanya kebetulan semata,” tutur Sasetya, mantan redaktur majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat dan Produser Creativ SCTV ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: