Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda

Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda

ILUSTRASI Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ketika harga diri tertekan dan hidup terasa tertinggal, komentar sinis menjadi jalan pintas. Jika aku belum sampai, setidaknya aku bisa mengecilkan arti capaian orang lain. Media sosial menyediakan panggung yang murah, cepat, dan hampir tanpa risiko sosial.

Lalu, algoritma datang menyiram bensin. Emosi keras lebih laku daripada ketenangan. Yang memancing reaksi diangkat lebih sering. Akibatnya, nyinyir terasa dominan. Seolah semua orang seperti itu. Padahal, sering kali itu hanya suara paling ribut, bukan suara paling banyak.

Di sinilah punchline yang sering luput kita sadari. Orang yang hidupnya penuh jarang dan tak tertarik untuk nyinyir. 

Orang yang nyinyir sering kali hanya sedang kosong. Nyinyir bukan identitas moral. Ia sinyal kelelahan. Ia tanda bahwa seseorang sedang berperang dengan dirinya sendiri. 

Dan, hampir semua orang pernah berada di fase itu. Tidak ada yang sepenuhnya kebal. Yang membedakan hanya apakah kita mau berhenti sejenak dan jujur kepada diri sendiri.

Karena itu, persoalan nyinyir tidak selesai dengan imbauan sopan santun digital. Ia akan mereda ketika kita berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan pribadi. 

Media sosial boleh terus berisik. Namun, ketenangan tidak pernah lahir dari layar. Dan, di sinilah kita memilih.

Nyinyir akan selalu ada. Tapi, kita tidak harus ikut tinggal di sana. Kita bisa memilih cukup. Cukup melihat tanpa membandingkan. Cukup mengapresiasi tanpa mengecilkan. Cukup sibuk memperbaiki diri tanpa mengomentari hidup orang lain. 

Sebab, pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang tetap tenang ketika orang lain bersinar. (*)

*) Tun Ahmad Gazali  adalah engineering leader dan peneliti independen.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: