Liam Rosenior Bela Vinicius: Perilaku Rasisme Harus Dihukum Seumur Hidup!
Pelatih Chelsea Liam Rosenior tuntut hukuman seumur hidup bagi pelaku rasisme dan tegaskan solidaritas untuk Vinicius Jr guna berantas diskriminasi di sepak bola.-Robbie Jay Barratt-Getty Images
Terkait komentar pelatih Benfica, Jose Mourinho, yang dinilai menyiratkan bahwa selebrasi Vinícius bersifat provokatif, Rosenior berhati-hati dalam merespons.
“Itu soal konteks. Apa pun selebrasi seorang pemain, ras tidak boleh dibawa-bawa. Saya tidak tahu konteks situasinya dan saya tidak akan membuat penilaian sampai fakta-faktanya jelas,” katanya.
Soroti Perpecahan Sosial dan Tuntut Akuntabilitas Media

Chelsea tersingkir dari Carabao Cup, tetapi Liam Rosenior menegaskan timnya menunjukkan progres positif dan berada di jalur yang benar.--Getty Images
Rosenior menilai bahwa isu ini mencerminkan persoalan yang lebih luas di masyarakat.
“Ada banyak hal yang perlu diubah dalam masyarakat kita. Saya tidak hanya berbicara tentang sepak bola. Ada banyak perpecahan,” ungkapnya.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian pihak, termasuk media dan pengguna media sosial, yang kerap membuat penilaian berdasarkan identitas seseorang.
BACA JUGA:Disingkirkan Arsenal di Carabao Cup, Rosenior: Chelsea Sudah di Jalur yang Benar
BACA JUGA:Chelsea Dicemooh Fans Sebelum Comeback, Liam Rosenior Buka Suara
“Ada banyak orang di media yang membuat prasangka terhadap seseorang berdasarkan orientasi seksual, negara asal, agama, atau warna kulit mereka. Sejujurnya, itu membuat saya muak,” ujarnya. Menurut Rosenior, akuntabilitas harus ditegakkan lebih kuat.
“Orang-orang perlu dimintai pertanggungjawaban lebih dari sekarang, terutama di media sosial dan pers. Hal-hal seperti ini harus benar-benar diberantas, karena setiap orang seharusnya dinilai secara setara berdasarkan isi karakter mereka.”
Baginya, sepak bola sebagai olahraga global memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh dalam memerangi diskriminasi. Tanpa tindakan tegas dan konsisten, pesan antirasisme hanya akan menjadi slogan tanpa makna nyata. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: the guardian