Remaja Bercinta di Malang Berubah Jadi Pembunuhan: Kencan, Langsung Touring
ILUSTRASI Remaja Bercinta di Malang Berubah Jadi Pembunuhan: Kencan, Langsung Touring.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
AKP Hafiz: ”Sebelum penemuan jenazah, keluarga korban melaporkan kehilangan korban ke Polresta Malang Kota. Akhirnya, korban ditemukan dan kami uji, berkeseseuaian dengan ciri-ciri pada baju korban. Polisi mulai penyelidikan. Pelaku kami tangkap Sabtu, 21 Februari 2026.”
Motor dan HP korban hilang. Diduga dicuri pelaku.
YDF dijerat Pasal 458 KUHP, pembunuhan dan/atau Pasal 459 KUHP, pembunuhan berencana. Penyidikan masih berproses. Jika terbukti pembunuhan berencana, pelaku akan diancam maksimal hukuman mati.
Mengapa percintaan remaja mengandung bahaya? Mengapa cinta yang semestinya menyenangkan berubah jadi pembunuhan? Simaklah ilustrasi pengalaman pribadi novelis perempuan top Amerika Serikat (AS) berikut ini.
Dikutip dari Time, 21 Februari 2025, berjudul Violence in Teen Relationships Is More Common Than You Think, karya novelis Amy Sarig King, menggambarkan kisah yang mirip dengan kejadian pembunuhan di Malang itu.
King kelahiran Inggris, 10 Maret 1970. Kini dia novelis kenamaan AS. Dia penerima Penghargaan Margaret Edwards 2022. Dia menceritakan pengalamannya, begini:
Saat saya berusia 17 tahun di akhir 1980-an, saya jatuh cinta kepada seorang pria dari tempat kerja saya. Dia berusia 19 tahun dan berasal dari negara lain, bukan AS, yang kebetulan saat itu ia berada di kantor saya untuk suatu keperluan.
Setelah perkenalan itu, saya dan cowok itu berpisah, beda negara. Setelah itu, kami saling berkirim banyak surat cinta. Telepon internasional terlalu mahal saat itu. Surat cinta saya anggap sangat romantis.
Suatu hari, sekitar enam bulan setelah hubungan kami dimulai, sebuah surat datang dari ia. Kali ini, ia menulis: kepada ”Nyonya… (nama belakang saya).”
Ibu saya langsung bereaksi serius. Dia mengatakan, itu posesif dan terlalu serius untuk usia kami. Dianjurkan, saya menulis surat balasan, hubungan kami putus.
Saya melakukannya, tetapi saya masih mencintainya. Diam-diam, saya terus menulis surat. Saya pikir dipanggil ”Nyonya” itu romantis. Ibu saya berlebihan.
Pada usia saya 21 tahun, setelah lima tahun terpisah dengannya, saya memulai hubungan tatap muka dengannya. Itu adalah cinta yang dalam dan nyata, atau begitulah yang saya pikirkan.
Pada usia saya 24 tahun, saya mengalami pelecehan emosional dan ancaman fisik yang begitu hebat darinya. Saya pun hampir tidak ingat nama saya sendiri.
Begitulah yang terjadi. Saya membeku dan tampaknya tidak dapat mendamaikan dikotomi kehidupan saya sendiri. Saya sangat mencintainya, tetapi sangat bingung dengan perilaku-perilaku kekerasannya itu. Ia mengatakan betapa ia mencintai saya, padahal ia melakukan kekerasan.
Saya cerdas dan berpendidikan. Saya tahu tentang kekerasan dalam rumah tangga, dan saya tahu apa yang ia lakukan itu salah, tetapi tidak ada yang memberi tahu saya, bagaimana cara menanganinya. Saya mengalami kebekuan, kebingungan, dan manipulasi psikologis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: