Memaknai Hari Raya Idulfitri dengan Kesadaran Spiritual

Memaknai Hari Raya Idulfitri dengan Kesadaran Spiritual

ILUSTRASI Memaknai Hari Raya Idulfitri dengan Kesadaran Spiritual-Ilustrasi Arya/AI-Harian Disway -

Dalam perspektif konseling, relasi yang sehat ditandai oleh adanya rasa aman secara emosional yang merupakan sebuah kondisi saat seseorang tidak merasa dihakimi, ditekan, atau dibandingkan. 

Sejalan dengan itu, Brene Brown menegaskan bahwa empati bukanlah sekadar memahami, tetapi kemampuan untuk hadir tanpa menghakimi pengalaman orang lain.

Sebagai alternatif, kita dapat mulai membiasakan bentuk komunikasi yang lebih empatik. Alih-alih bertanya hal-hal yang bersifat evaluatif, kita bisa mengajukan pertanyaan dan ungkapan yang lebih terbuka dan tidak menghakimi. 

Misalnya, ”bagaimana kabarmu hari ini?” atau ”semoga kamu selalu diberi kebahagiaan dalam setiap prosesmu”. Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa, tetapi memiliki daya yang besar dalam menciptakan kenyamanan.

Hari raya bukan hanya tentang saling memaafkan atas kesalahan yang telah lalu, tetapi juga tentang komitmen untuk tidak lagi menciptakan luka baru. Spiritualitas sejati tidak hanya tecermin dalam ritual, tetapi dalam cara kita memperlakukan hati orang lain. 

Memaknai hari raya secara sehat dengan kesadaran spiritual berarti menghadirkan empati dalam setiap kata, menjaga sensitivitas dalam setiap interaksi, dan menghormati setiap perjalanan hidup tanpa membandingkan.

Jika hal itu dapat kita praktikkan, silaturahmi tidak lagi menjadi ruang yang menegangkan, tetapi benar-benar menjadi rumah tempat setiap orang merasa diterima, dipahami, dan dihargai sehingga di situlah makna terdalam dari ”mohon maaf lahir dan batin” benar-benar menemukan wujudnya. (*)


*) Muchammad Syuhada’ adalah akademisi Universitas Negeri Surabaya.-Dok. Pribadi-

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: