Menagih Janji Kesalehan Sosial Pasca-Ramadan
ILUSTRASI Menagih Janji Kesalehan Sosial Pasca-Ramadan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
RAMADAN baru saja berlalu. Kini kita memasuki Syawal yang sering disebut sebagai bulan kemenangan. Bulan saat kita menjadi kembali menjadi insan suci (Idulfitri) setelah berlatih puasa sebulan penuh.
Seberapa jauh hasil latihan puasa Ramadan bisa memberikan dampak berkelanjutan, tidak hanya iman vertikal, tetapi juga iman horizontal. Pertanyaan itu penting untuk diingatkan sebagai refleksi bersama pasca-Ramadan.
Dimensi sosial ibadah puasa Ramadan –sebagai bagian dari optimasi relasi horizontal sudah sering di-reminding para ustaz dan para guru– merupakan medium melatih kesalehan sosial untuk mempertebal kemanfaatan bagi umat dan lingkungan.
Tidak heran jika di bulan Ramadan banyak sekali umat yang melakukan aksi sosial sedekah jariah dan aneka ibadah sosial, khususnya kepada kaum duafa, masakin, dan walmustad’afin.
BACA JUGA:Menag: Jadikan Ramadan 2026 Momentum Perkuat Kesalehan Sosial dan Harmoni Bangsa
Kita bisa menyaksikan dan simak bersama peningkatan aksi sosial di bulan Ramadan. Mulai pemberian donasi, bantuan bahan pangan dan sandang, santunan anak yatim piatu, disabilitas, lansia, serta kaum miskin.
Bahkan, menjelang waktu berbuka puasa, banyak pihak membagikan takjil di jalan kepada para pengendara yang melintas. Ada yang menerima dengan senyum, ada yang hanya mengangguk singkat sebelum melanjutkan perjalanan.
Potret sederhana aktivitas berbagi. Bukan sebuah seremoni besar, melainkan berbagi sederhana untuk sekadar memberi paket sederhana berisi air minum dan makanan ringan untuk berbuka.
Pemandangan seperti itu hampir selalu hadir setiap Ramadan. Seolah semua sedang berlomba menabar kebaikan dan kemanfaatan untuk sesama. Praktik kesalehan sosial khas yang sudah berlangsung turun-temurun di negeri ini. Pertanyaannya, bisakah praktik aksi sosial itu kita lanjutkan pasca-Ramadan?
Di tengah berbagai persoalan sosial yang kompleks, mulai kemiskinan hingga ketimpangan kesejahteraan, aksi sosial seperti itu menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial masih ada dan tumbuh baik dalam masyarakat. Jika bisa kita maksimalkan dengan baik dan massif, niscaya akan membantu penanganan berbagai masalah sosial di masyarakat.
Spirit Ramadan berdimensi sosial seperti itulah yang harus terus dijaga. Ramadan selalu datang dengan daya magis, mampu menghidupkan kembali energi kebaikan yang kadang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari di luar Ramadan.
Dalam Ramadan, sebulan penuh kita belajar menahan diri, menahan lapar, menahan emosi, dan menahan berbagai keinginan yang sering kali sulit dikendalikan dalam kehidupan sehari-hari.
Masjid menjadi lebih ramai, sedekah terasa lebih mudah dilakukan, dan ucapan saling memaafkan mengalir lebih ringan dari biasanya.
RAMADAN SEBAGAI MADRASAH SOSIAL
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: