Pesantren Rasa Korporasi
PENULIS (belakang, kanan) bersama pengasuh dan santriwati Ponpes Darul Ulum, Peterongan, Jombang, Jawa imur.-Arif Afandi untuk Harian Disway-
Tentu, menggunakan instrumen korporasi dalam mengelola pesantren bukan tanpa risiko. Ketika zuriah terlalu dominan, ia bisa berubah menjadi oligarki keluarga. Ketika profesional terlalu kuat, pesantren bisa kehilangan ruhnya dan tergelincir menjadi sekadar ”industri pendidikan”. Ketegangan antara nilai dan manajemen akan selalu ada.
Masalahnya bukan bagaimana menghilangkan ketegangan itu. Melainkan, bagaimana menjaganya tetap produktif. Darul Ulum tampak berhasil merawat keseimbangan itu. Nilai tidak ditinggalkan, tapi juga tak menjadi alasan menolak perubahan. Sistem dibangun, tapi tidak menggusur otoritas moral kiai.
Di tengah banyaknya lembaga yang terjebak antara tradisi dan modernitas, Darul Ulum menunjukkan satu kemungkinan lain: keduanya bisa berjalan bersama. Bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan akar.
Di sinilah pelajaran paling penting dari pesantren hari ini. Bukan soal menjadi korporasi atau tidak. Tapi, bagaimana memastikan bahwa ketika tumbuh besar, kita tidak lupa siapa diri kita sejak awal. Merespons modernitas tanpa kehilangan akar tradisionalnya.
Itu seperti mewujudkan paradigma di kalangan pesantren: melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Ponpes Darul Ulum Peterongan tak hanya berkembang dengan tata kelola modern. Tapi, juga menjadikan nyata paradigma itu. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: