Usai Kunjungan ke Rusia–Prancis, Prabowo Pacu Kerja Sama Energi dan Amankan Pasokan Minyak
Seskab Teddy Indra Wijaya dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media di Istana Merdeka terkait hasil pertemuan energi dengan Rusia dan upaya pengamanan pasokan minyak nasional.-Sekretariat Presiden-Youtube
HARIAN DISWAY - Presiden Prabowo Subianto baru saja menuntaskan lawatan ke dua negara besar, Rusia dan Prancis. Keduanya merupakan negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB.
“Bapak Presiden baru tiba dari kunjungan singkat dua hari ke dua negara super power yaitu bertemu Presiden Rusia, kemudian Presiden Prancis,” ujar Seskab Teddy Indra Wijaya dalam keterangannya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 16 April 2026.
Kunjungan ke Russia berlangsung 13 April 2026, disusul Prancis sehari setelahnya. Di Moskow, Prabowo bertemu Presiden Vladimir Putin, membahas penguatan kerja sama energi jangka panjang.
Sepulang dari pertemuan itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia langsung ditugaskan secara khusus oleh Presiden. Ia bertemu utusan khusus Putin dan Menteri Energi Rusia untuk menindaklanjuti pembicaraan tingkat kepala negara.
BACA JUGA:Prabowo Ikut Retret DPRD se-Indonesia, Wartawan Diminta Keluar saat Sesi Inti
BACA JUGA:Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi 2026: Ajak Umat Hindu Perkuat Persatuan
Sementara Presiden melanjutkan agenda ke Prancis, Bahlil tetap di jalur negosiasi. Hasil pertemuan dengan pihak Rusia kemudian dilaporkan langsung ke Prabowo sebagai bahan pengambilan keputusan lanjutan.
“Kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan, bahwa kita akan mendapat pasokan, crude dari Rusia, dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting, dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” jelas Bahlil kepada wartawan.
Kebutuhan energi Indonesia memang tidak kecil. Menurut Bahlil, konsumsi minyak mentah saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi dalam negeri baru di kisaran 610 ribu barel per hari.
Artinya, ada celah besar yang harus ditutup lewat impor. Indonesia masih harus mendatangkan sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk menjaga pasokan tetap stabil.
BACA JUGA:Harga Minyak RI Melesat Tembus USD102 per Barel Imbas Selat Hormuz Terganggu
BACA JUGA:Harga BBM Pertamina Resmi Naik 18 April 2026, Simak Rinciannya!
“Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, insyaallah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” ujar Bahlil.
Dalam kondisi seperti ini, pemerintah memilih tidak bergantung pada satu sumber saja. Berbagai opsi dibuka untuk memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi tanpa gangguan.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: