Hari Kartini: Antara Perayaan dan Pemaknaan

Hari Kartini: Antara Perayaan dan Pemaknaan

ILUSTRASI Hari Kartini: Antara Perayaan dan Pemaknaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Ada satu hal penting yang sepertinya belum selesai, yaitu kesetaraan gender. Kesetaraan gender saat ini telah menjadi wacana global yang diadopsi dalam berbagai kebijakan nasional. Namun, implementasinya sering kali menghadapi tantangan budaya, sosial, dan struktural. 

Di Indonesia, konsep kesetaraan gender sering disalahpahami sebagai ”persamaan mutlak” antara laki-laki dan perempuan, padahal yang diperjuangkan adalah keadilan (equity). Yaitu, pemberian akses dan kesempatan yang setara sesuai kebutuhan dan konteks masing-masing.  

Kesetaraan gender sering kita dengar sebagai istilah yang besar, bahkan kadang terasa abstrak. Namun, sesungguhnya ia hidup dalam hal-hal kecil yang kita temui setiap hari. Ia hadir ketika seorang perempuan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang. 

Ia hadir ketika suara perempuan didengarkan tanpa prasangka. Ia hadir ketika pekerjaan domestik tidak lagi dianggap sebagai ”kodrat” sepihak. Ia hadir ketika perempuan merasa aman baik di rumah, di jalan, di tempat kerja, dan di dunia maya. 

Namun, kesetaraan juga bisa absen dalam cara-cara yang halus. Dalam candaan yang merendahkan, dalam ekspektasi yang tidak seimbang, dalam norma yang membatasi tanpa kita sadari. 

Ketimpangan tidak selalu muncul sebagai sesuatu yang keras dan nyata; kadang ia bersembunyi dalam kebiasaan. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa memperjuangkan kesetaraan bukan hanya soal kebijakan besar, melainkan juga soal cara kita berpikir, berbicara, dan memperlakukan satu sama lain.

Hari ini perempuan tidak hanya hadir di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Di era digital, perempuan memiliki peluang baru untuk mengekspresikan diri dan memperjuangkan hak-haknya. 

Media sosial, misalnya, menjadi ruang alternatif bagi perempuan untuk bersuara, membangun solidaritas, dan mengadvokasi isu-isu gender. Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan baru seperti kekerasan berbasis gender online, body shaming, dan objektifikasi perempuan. 

Perempuan sering menjadi sasaran komentar negatif, pelecehan, bahkan serangan personal. Kebebasan yang ada sering kali dibayangi oleh risiko yang tidak kecil.  Itu menunjukkan bahwa teknologi tidak secara otomatis menciptakan kesetaraan, tetapi juga mereproduksi relasi kuasa yang sudah ada. 

Dalam konteks ini, semangat Kartini perlu diterjemahkan ulang: bukan hanya tentang akses terhadap pendidikan formal, melainkan juga literasi digital, kesadaran kritis, dan kemampuan untuk menavigasi ruang publik baik fisik maupun virtual.

Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi peringatan, tetapi juga pengingat. Pengingat bahwa perjuangan untuk menjadi manusia yang setara masih terus berlangsung. Menghidupkan Kartini tidak harus dengan cara yang besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana. 

Dari cara kita mendidik anak perempuan agar percaya diri dan berani bermimpi. Dari cara kita menghargai pilihan hidup perempuan lain, tanpa menghakimi. Dari cara kita membangun relasi yang setara, baik di rumah maupun di tempat kerja. 

Ia juga bisa hadir dalam keberanian untuk berbicara ketika melihat ketidakadilan. Dalam kesediaan untuk mendengarkan pengalaman orang lain. Dalam upaya untuk terus belajar dan memahami. 

Kartini hidup bukan dalam kebaya yang kita kenakan setahun sekali, tetapi dalam nilai-nilai yang kita jalani setiap hari.

Agar Hari Kartini tidak terjebak dalam simbolisme, diperlukan upaya untuk mengembalikan esensi perayaannya sebagai momentum refleksi dan transformasi sosial. Beberapa langkah dapat dilakukan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: