Araghchi Salahkan AS Atas Kegagalan Perundingan di Islamabad

Araghchi Salahkan AS Atas Kegagalan Perundingan di Islamabad

Menlu Iran Abbas Araghchi berbincang dengan pejabat Rusia di lounge Bandara St. Petersburg sambil menunggu jadwal bertemu dengan Presiden Vladimir Putin -Tehran Times-

HARIAN DISWAY - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyalahkan Amerika Serikat atas kegagalan upaya perdamaian di Islamabad, Pakistan pada 11, 12, hingga 20 April silam. 

Hal tersebut ia sampaikan saat tiba di Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin pada Senin, 27 April 2026. Araghchi menuding tuntutan berlebihan dari pihak Washington menjadi penghalang tercapainya kesepakatan.

"Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun sempat ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan," ujar Araghchi sebagaimana dikutip oleh media Iran.

BACA JUGA:Menlu Iran Temui Putin di Rusia, Perundingan dengan AS Masih Menggantung

BACA JUGA:Bantah Klaim Trump, Iran Tak Akan Serahkan Stok Uranium: Cadangan Nuklir Sama Sucinya dengan Tanah Persia

Kunjungan ke Saint Petersburg ini dilakukan setelah serangkaian diplomasi regional di Oman dan ibu kota Pakistan, Islamabad. Upaya perdamaian tersebut menemui jalan buntu setelah Presiden AS, Donald Trump, membatalkan pengiriman utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan pada Sabtu lalu.

Pembatalan ini dipicu oleh pernyataan televisi pemerintah Iran yang menyebut Araghchi tidak berencana menemui pejabat AS di sana. Trump kemudian menegaskan bahwa jika Iran menginginkan dialog, mereka harus mengambil inisiatif untuk menghubungi pihak AS.


Menlu Iran Abbas Araghchi (kiri) disambut pejabat Rusia saat tiba di Bandara St. Petersburg, Rusia pada hari Senin pagi-Tehran Times-

Di tengah kebuntuan tersebut, isu Selat Hormuz menjadi poin krusial dalam ketegangan ini. Araghchi menekankan bahwa lintasan aman melalui Selat Hormuz adalah isu global yang penting.

BACA JUGA:Presiden Iran Sebut Tekanan AS Jadi Penghambat Utama Dialog di Islamabad

Saat ini, jalur strategis tersebut masih dalam kondisi terblokade oleh kedua belah pihak. Iran menyegel selat tersebut untuk memutus aliran minyak, gas, dan pupuk, sementara Amerika Serikat juga menerapkan blokade di wilayah perairan yang sama.

Situasi ekonomi global terus tertekan akibat blokade ini, yang menyebabkan lonjakan harga komoditas dan ancaman ketahanan pangan di berbagai negara berkembang. Di Amerika Serikat, kenaikan harga bahan bakar menjadi isu sensitif bagi pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.

Meski demikian, komunikasi informal dilaporkan masih berlangsung. Kantor berita Fars menyebut Iran telah mengirimkan pesan tertulis melalui Pakistan yang menguraikan garis merah terkait nuklir dan Selat Hormuz.

Selain itu, muncul laporan dari Axios mengenai proposal baru Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat tersebut dengan syarat negosiasi nuklir ditunda ke tahap berikutnya.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: