Rumah Besar NU
ILUSTRASI Rumah Besar NU.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Idealnya, NU ke depan punya pembagian peran yang lebih jernih. Misalnya, pesantren menjaga nilai dan arah moral. PBNU menjadi pengarah dan penghubung. Badan otonom seperti Ansor menjadi pelaksana gerakan. PMII dan alumninya menjadi dapur kader dan pemimpin masa depan. Mereka tak saling berebut ruang. Tapi, saling mengisi.
Jelas, untuk bisa menjadikan PBNU sebagai rumah besar bersama tak akan mudah. Selalu ada godaan politisasi, tarik-menarik kepentingan, dan ego sektoral. Apalagi, ketika akses ke kekuasaan negara terbuka lebar. Yang sering kali menyeret NU ke dalam arus yang tidak selalu sejalan dengan misi kulturalnya.
Jadi, modernisasi penting dan konsolidasi elite juga penting. Tapi, tanpa akar pesantren, NU bisa berubah menjadi sekadar organisasi besar tanpa ruh. Sebaliknya, kalau hanya bertahan pada tradisi tanpa pembaruan, NU bisa tertinggal dari perubahan zaman.
Saatnya NU selalu membaca berbagai dinamika tidak dengan satu kacamata. Tapi, melihatnya sebagai proses. Yakni, proses NU yang sedang menghadapi kompleksitas perubahan. Proses menjadikan NU bukan hanya organisasi tradisional, melainkan juga institusi modern. Bukan hanya penjaga warisan, melainkan juga perancang masa depan.
Setiap proses, wajar selalu ada tarik-menarik. Wajar kalau ada kegamangan. Bahkan, wajar kalau ada kekhawatiran. Namun, yang tidak boleh hilang adalah arah besarnya. Apa itu? Menyatukan tradisi, kaderisasi, dan kekuatan organisasi ke dalam satu bangunan yang utuh.
Jika proses itu berhasil, NU yang sudah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa ini akan tetap relevan ke depan. Juga, akan menjadi model kelembagaan paling unik di dunia: modern tapi bersanad. Insya Allah! (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: