Malaysia dan Jawa Timur: Serumpun dan Saling Menguntungkan

Malaysia dan Jawa Timur: Serumpun dan Saling Menguntungkan

ILUSTRASI Malaysia dan Jawa Timur: Serumpun dan Saling Menguntungkan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Hari ini persaingan global tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga antarwilayah. Daerah yang mampu membangun jejaring internasional akan lebih cepat tumbuh daripada yang hanya menunggu kebijakan pusat. Jawa Timur memiliki semua syarat itu: basis industri kuat, pasar besar, posisi geografis strategis, dan modal budaya yang solid.

DARI LIFESTYLE ECONOMY HINGGA STRATEGI MASA DEPAN

Hubungan warga se-Melayu itu juga berkembang melalui lifestyle economy. Wisatawan Malaysia yang datang ke Jawa Timur hari ini tidak hanya mencari Bromo, Ijen, Baluran, atau Tumpak Sewu, tetapi juga mencari pengalaman sosial seperti coffee culture, modest fashion, parfum lokal, beauty retail, hingga tempat-tempat yang sedang ramai di media sosial.

Catatan peneliti Karem Raslan Associated (KRA), firma konsultasi public affairs dan political risk berbasis di Kuala Lumpur menunjukkan bahwa parfum lokal Indonesia seperti HMNS telah membuka cabang di Kuala Lumpur. 

Produk seperti Saff & Co, Mykonos, hingga berbagai brand modest fashion Indonesia makin dikenal di Malaysia. Retail kecantikan seperti Sociolla juga menjadi destinasi belanja favorit wisatawan Malaysia.

Itu menunjukkan bahwa brand lokal Indonesia memiliki daya tarik nyata. Anak muda Malaysia tidak selalu datang untuk melihat pabrik, tetapi mencari pengalaman, tren, dan identitas konsumsi yang terasa dekat dengan kehidupan mereka.

Dari mana mereka mengetahui semua itu? Jawabannya adalah eksposur media. Di era digital, media massa maupun media sosial menjadi sumber rujukan utama dalam pengambilan keputusan. Pemberitaan sering kali jauh lebih efektif daripada brosur promosi investasi.

Karena itu, Jawa Timur perlu lebih percaya diri berbicara kepada media asing, audiens internasional, dan publik luar negeri tentang kelebihan yang dimilikinya. Promosi tidak cukup hanya soal angka ekspor, tetapi juga harus bicara soal rasa, pengalaman, dan kedekatan emosional.

Ada beberapa langkah yang perlu diperkuat. Pertama, misi dagang harus berkelanjutan karena ekonomi tidak dibangun dari kunjungan sesekali, tetapi dari kontinuitas dan tindak lanjut yang serius. 

Kedua, konektivitas transportasi harus diperkuat melalui penambahan frekuensi penerbangan langsung Surabaya–Kuala Lumpur agar biaya mobilitas tidak menjadi hambatan pertumbuhan.

Ketiga, kerja sama harus diperluas ke sektor pendidikan, pesantren, industri halal, dan ekonomi kreatif. Kedekatan kultur muslim adalah kekuatan besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Keempat, Malaysia harus dipandang bukan hanya sebagai buyer, melainkan juga sebagai strategic partner jangka panjang.

Mahalnya tiket Surabaya–Kuala Lumpur mungkin selama ini dianggap sekadar beban perjalanan. Padahal, bisa jadi itu adalah sinyal paling jujur bahwa hubungan kedua wilayah sedang kian intens. Arus manusia, modal, perdagangan, dan budaya sedang bergerak.

Di tengah dunia yang makin mahal dan kompetitif, kedekatan adalah aset. Jawa Timur dan Malaysia sudah memilikinya: geografis dekat, ekonomi saling membutuhkan, dan budaya sama-sama serumpun.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita cukup serius mengubah kedekatan itu menjadi kekuatan? Pepatah Melayu mengatakan, kalau tidak dipecahkan ruyung, manakan dapat sagunya. Kesempatan harus dijemput, bukan ditunggu. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: