Universitas Ciputra Perkuat Ekosistem Kampus Inklusif Lewat Integrasi Data dan Digitalisasi

Universitas Ciputra Perkuat Ekosistem Kampus Inklusif Lewat Integrasi Data dan Digitalisasi

Universitas Ciputra Perkuat Ekosistem Kampus Inklusif Lewat Integrasi Data dan Digitalisasi-Universitas Ciputra-

“Kami ingin inklusivitas tidak hanya berhenti pada awareness. Tetapi masuk ke sistem. Melalui CEDX, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya. Lengkap dengan panduan yang relevan. Sehingga bisa lebih siap dalam merancang proses pembelajaran,” jelasnya.

Fitur yang diluncurkan pada 4 Mei itu memungkinkan dosen melihat tampilan khusus terkait mahasiswa disabilitas yang mengikuti mata kuliahnya.

Informasi tersebut disertai guidebook. Berfungsi untuk membantu dosen memahami pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan mahasiswa.

BACA JUGA:Industri Kreatif Universitas Ciputra Ajak Pelajar Eksplorasi Desain Material lewat Workshop Keramik

BACA JUGA:Mix and Match hingga Glowy Look, Universitas Ciputra Surabaya Bekali Gen Z Lewat Workshop Fashion dan Makeup

Ke depan, pengembangan akan diperluas melalui dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA). Rencananya mulai aktif pada September 2026 setelah O-Week (Orientasi Week).

Melalui fitur itu, dosen PA dapat mengidentifikasi mahasiswa sejak awal. Lalu melakukan pendampingan yang lebih terarah. Sekaligus berkoordinasi dengan admin support terkait kebutuhan pembelajaran.


Universitas Ciputra Perkuat Ekosistem Kampus Inklusif Lewat Integrasi Data dan Digitalisasi-Universitas Ciputra-

UC tetap menempatkan privasi mahasiswa sebagai prioritas utama. Untuk tahap awal, data belum dibuka secara luas kepada seluruh dosen pengampu mata kuliah.

Mengingat masih diperlukan persetujuan tertulis dari mahasiswa. Skema itu menjadi bagian dari upaya membangun sistem inklusif. Yang tetap menghormati aspek etika dan perlindungan data.

BACA JUGA:Lewat Alumni Talk Beyond Design, Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Diajak Menyusun Arah Karier Kreatif

BACA JUGA:Watercolor Workshop Pungkasi Creative Space 2026 di Universitas Ciputra Surabaya

Langkah itu menunjukkan bahwa pengembangan kampus inklusif tidak cukup hanya melalui fasilitas atau kebijakan. Tetapi membutuhkan integrasi antara edukasi, sistem, dan budaya.

“Kami ingin membangun ekosistem yang benar-benar siap. Bukan hanya ramah. Inklusivitas harus hadir dalam sistem. Sehingga dosen bisa mengajar dengan lebih percaya diri. Dan mahasiswa bisa belajar dengan optimal,” tutup Yehuda.

Pendekatan itu menunjukkan arah baru yang diambil UC untuk membangun kampus inklusif. Kampus yang empatik, terstruktur, dan didukung data dan sistem yang jelas. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: