Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dipertanyakan, Ekonom Soroti Ketimpangan Data BPS

Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dipertanyakan, Ekonom Soroti Ketimpangan Data BPS

Menurut ekonom Celios, Nailul, program makan bergizi gratis (MBG) tidak serta merta akan menyerap anggarap sebesar Rp 60 triliun dalam triwulan I 2026.-Ist-

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Pemerintah baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan I (TW1) 2026 yang mencapai 5,61 persen secara year-on-year (yoy).

Meski angka itu tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2012, pakar ekonomi menilai ada ketimpangan serius antara data statistik dengan realitas di lapangan.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengungkapkan, angka 5,61 persen tersebut sangat fantastis karena melampaui capaian dua periode pemerintahan Presiden Jokowi yang tak pernah menyentuh level 5,6 persen.

BACA JUGA:Rupiah Melemah ke Rp17.400 per Dolar AS, Bank Indonesia Intervensi Pasar

BACA JUGA:Ekonomi Lesu? Perjalanan Wisatawan Nusantara Justru Naik 13 Persen

Namun, Huda menyoroti empat anomali besar yang membuat kredibilitas data Badan Pusat Statistik (BPS) dipertanyakan.

Anomali pertama terletak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang diklaim mencapai 5,52 persen, melonjak dari 4,96 persen pada TW1-2025.

Padahal, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia per Maret 2026 justru turun ke level 122,9 basis poin dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 127,0.

"Biasanya IKK mencerminkan pergerakan konsumsi. Menariknya, konsumsi pakaian dan alas kaki justru melambat dibandingkan tahun lalu, padahal ada momen Ramadan dan Lebaran. Ada ketidaksinkronan dalam perhitungan BPS di sini," ujar Nailul Huda kepada Harian Disway, Rabu, 6 Mei 2026.

BACA JUGA:Rupiah Jeblok ke Rp 17.300, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

BACA JUGA:Blokade Selat Hormuz Terus Rongrong Ekonomi Dunia, Perundingan Islamabad Mendesak  

Anomali kedua muncul pada konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh 6,91 persen, tertinggi dalam lima kuartal terakhir.

Namun, pertumbuhan ini tidak didukung oleh penyedia jasanya. Jasa transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 8,04 persen, jauh lebih rendah dibanding rata-rata tahun 2025 yang berada di angka 8,5 hingga 9 persen. Begitu juga dengan jasa informasi dan komunikasi yang melambat.

Di sektor investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sub-kendaraan tumbuh perkasa 12,39 persen. Namun di saat yang sama, industri alat angkutan domestik justru terkontraksi hingga minus 5,02 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: