Rekayasa Perilaku Manusia lewat Budaya

Rekayasa Perilaku Manusia lewat Budaya

ILUSTRASI Rekayasa Perilaku Manusia lewat Budaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Ritual jangan didiskreditkan sebagai klenik menakutkan. Disadari atau tidak, ritual berhasil menjadi mekanisme kultural yang mengarahkan manusia untuk bertindak selalu menjaga ekologi lingkungan sekitarnya. 

Pesatnya teknologi digitalisasi membuat masyarakat bisa dengan leluasa melontarkan kritik. Akan tetapi, Prof Edy Jauhari membedah cara agar kritik bisa dilontarkan namun tidak mengarah ke dalam kekerasan verbal serta efektif mengubah perilaku manusia. 

Meski demikian, perlu saya ingatkan bahwa tulisan beliau jangan disalahgunakan  menjadi alasan menjinakkan kritik dalam kehidupan berdemokrasi. Kritik yang sesuai tips Prof Edy Jauhari sejatinya juga menyehatkan nilai demokrasi. Dengan demikian, dalam aspek linguistik, sejatinya budaya juga berkontribusi dalam mengubah perilaku manusia. 

Kritik bisa menjadikan manusia berefleksi atas kesalahannya. Sedangkan bahasa daerah dan ritual dalam tradisi mengarahkan manusia agar menjaga kelestarian alam sekitarnya

Menggugat Patriarki, Menata Ulang Maskulinitas

Tulisan Prof Diah Arimbi dan Prof Nur Wulan sama-sama kuat dan justru saling melengkapi dalam membaca persoalan gender hari ini. Prof Diah Arimbi melalui Perempuan dalam Pusaran Budaya menunjukkan bagaimana perempuan terus berhadapan dengan ketimpangan, baik dalam budaya patriarki maupun lanskap budaya digital. 

Dia menegaskan untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan tidak mungkin tercapai tanpa keberanian membongkar bias gender dan mengubah cara pandang terhadap perempuan. Di sisi lain, Prof Nur Wulan dalam Mendefinisikan Kembali Maskulinitas Indonesia: Tradisi, Modernitas, dan Lanskap Gender yang Berubah menawarkan refleksi penting bahwa laki-laki juga perlu mendefinisikan ulang maskulinitasnya. 

Maskulinitas yang sehat tidak berusaha mendominasi, tetapi menghormati perempuan. Dari dua sudut itu, terlihat jelas bahwa persoalan gender bukan hanya soal perempuan, melainkan juga bagaimana laki-laki memosisikan diri. 

Pada akhirnya, cara kita memahami perempuan dan maskulinitas akan sangat menentukan bagaimana kita bersikap satu sama lain, bahkan memengaruhi arah pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan. 

Menggerakkan Perubahan dengan Karya Sastra

Prof Ida Bagus Putera melalui tulisannya, Eksotisme Sastra: Eksistensi dan Fungsi Sastra dalam Pembangunan Karakter dan Perubahan Sosial, menegaskan bahwa sastra menjadi medium pembentuk karakter dan pengarah kesadaran sosial. Ia menyoroti pentingnya membaca sastra harus dibiasakan kalangan masyarakat umum hingga elite negara. 

Melalui sastra, individu diajak memahami kompleksitas kehidupan, merasakan empati, sekaligus mengkritisi realitas. Berbagai genre sastra menghadirkan pengalaman batin yang tidak bisa digantikan oleh data atau kebijakan semata sehingga mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia di sekitarnya. 

Gagasan itu menunjukkan bahwa sastra memiliki daya intervensi yang halus namun kuat dalam membentuk pola pikir kolektif. Ketika masyarakat terbiasa membaca dan merefleksikan nilai-nilai dalam karya sastra, perubahan sosial tumbuh dari kesadaran. 

Oleh sebab itu, sastra berperan sebagai penuntun arah, membantu membangun tatanan sosial yang lebih beradab dan berkeadilan. 

Pada akhirnya, gagasan tentang ”merekayasa perilaku manusia lewat budaya” bukanlah selentingan saja dan dibuktikan dalam perspektif sejarah, linguistik, dan sastra sebagaimana dijelaskan oleh buku Perubahan Budaya di Indonesia: Perspektif Sejarah, Linguistik, dan Sastra

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: