Rudal Bicara, Doha Merana
ILUSTRASI Rudal Bicara, Doha Merana.-Arya/AI-Harian Disway -
Pelayan warung, seorang ibu separuh baya, mencatat dengan serius. Lalu, ia bertanya, ”telurnya setengah matang saja?”
Turis itu mengangguk cepat. Matanya berbinar. Ia tersenyum lebar. Lalu, tiba-tiba ia menambahkan dengan nada khawatir, ”tapi, jangan pakai sambal terlalu banyak, ya. Saya takut banget pedas.”
Ibu pelayan tertawa. ”Tenang, Pak! Sambal di sini cuma sedikit. Tidak akan meledak.”
Turis itu lega. Ia duduk. Menunggu. Senyum masih terkembang.
Saya ikut tertawa kecil. Di tengah dunia yang riuh oleh rudal dan bom, di tengah para pemimpin yang sibuk saling gertak, di warung kecil itu hidup berjalan biasa saja. Manusia masih bisa takut pada sambal. Bukan pada perang. Bukan pada rudal.
Mungkin, suatu hari nanti, para pemimpin dunia perlu dikirim ke warung itu. Biar mereka duduk. Biar mereka pesan nasi goreng dengan lafal berlepotan. Biar mereka takut pada pedasnya sambal, bukan pada kekuasaan dan keserakahan.
Tapi, tentu saja, itu cuma lamunan. Lamunan seorang yang baru selesai membaca berita perang, lalu menutup hape, dan memilih memesan es kelapa muda satu lagi.
Sebab, di Legian, Sabtu sore selalu punya cara sendiri untuk membuat dunia terasa lebih ringan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: