Jelang The Last Ship, Sting Soroti Toxic Masculinity dalam Masyarakat Modern

Jelang The Last Ship, Sting Soroti Toxic Masculinity dalam Masyarakat Modern

Sting, mantan personel The Police, soroti fenomena toxic masculinity di kalangan masyarakat modern.-@theofficialsting-Instagram

Cerita The Last Ship menggambarkan kehidupan para pekerja galangan kapal masa silam. Mereka kehilangan pekerjaan akibat gelombang deindustrialisasi. Itu terjadi pada era 1970-an dan 1980-an.

Dalam cerita tersebut, para karakter pria digambarkan merasa kehilangan identitas. Sebab, industri tempat mereka bekerja ditutup.

Salah satu dialog dalam musikal itu cukup menggugah: mempertanyakan arti keberadaan pria tanpa kapal yang mereka bangun.

BACA JUGA:Mamasak Asa: Membaca Marapi Lewat Sulaman dan Bunyi

BACA JUGA:Lirik dan Terjemahan Heavy Serenade Milik NMIXX, Lagu Romantis buat Penggemar

Sting juga mengkritik kebijakan ekonomi Inggris di masa lalu. Pemerintah setempat dianggap mengabaikan sektor industri tradisional. Hanya demi ekonomi berbasis jasa.

Menurutnya, kekayaan Inggris dahulu dibangun dari kawasan tambang batu bara, kota baja, pabrik, hingga galangan kapal.

Namun, semua sektor tersebut perlahan ditinggalkan. Sehingga banyak keterampilan pekerja akhirnya hilang begitu saja.

Meski begitu, Sting mengaku dirinya tidak pernah ingin bekerja di galangan kapal. Tak seperti keluarganya dahulu.

BACA JUGA:Harga Tiket Konser The Weeknd di Jakarta, Termurah Mulai Rp900 Ribuan

BACA JUGA:Ringo Starr Ungkap Album Terbaru Country Long Long Road, Kenang Perjalanan Karier Hingga Gabung The Beatles

Ia menyebut pekerjaan itu sangat berat dan berbahaya. Karena para pekerja harus berhadapan dengan bahan beracun seperti asbestos.


Musisi legendaris Sting saat berlatih untuk menyiapkan konser musikal The Last Ship.-@theofficialsting-Instagram

Meski keras, Sting tetap merindukan rasa kebersamaan dan kebanggaan sosial. Rasa yang lahir dari lingkungan industri tersebut.

“Mereka bisa melihat kapal yang selesai dibuat dan berkata, ‘Saya yang membangun itu’,” ujarnya. Menurut Sting, kebanggaan kolektif seperti itu kini semakin sulit ditemukan di era modern.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: billboard