Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang, Kemesraan Lama yang Tersandung Nuklir

Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang, Kemesraan Lama yang Tersandung Nuklir

BENDERA TIONGKOK DAN KORUT berkibar di jalanan untuk menyambut kedatangan Xi Jinping.-KIM WONG JIN-AFP-

Pakar Korea Utara dari Universitas Kyungnam Lim Eul-chul menilai bahwa meningkatnya posisi internasional Tiongkok kemungkinan mendorong Beijing untuk menarik Pyongyang lebih aktif ke dalam orbit diplomatiknya.

Dengan kata lain, kunjungan Xi bukan hanya tentang hubungan bilateral. Ini juga tentang bagaimana Tiongkok membangun konfigurasi kekuatan regionalnya untuk tahun-tahun mendatang.

Menurut Minseon Ku, hubungan Moskow dan Pyongyang justru lebih setara dibanding hubungan Beijing dan Pyongyang. Rusia membutuhkan Korea Utara dalam perang Ukraina, sementara Kim Jong Un membutuhkan teknologi serta pasokan pangan dari Rusia.

Artinya, ruang kerja sama Rusia dan Korea Utara tetap terbuka. Namun, posisi Tiongkok sebagai penopang utama Korea Utara belum benar-benar tergeser.

Kunjungan Xi ke Pyongyang menjadi penanda bahwa hubungan Tiongkok dan Korea Utara sedang memasuki fase baru. Fase yang lebih pragmatis. Fase yang tidak lagi berpusat pada harapan denuklirisasi. Melainkan pada pengelolaan realitas geopolitik yang ada.

Karpet merah di bandara Pyongyang pada Senin itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, pesan yang dibawanya bisa berdampak jauh lebih lama.

Tiongkok dan Korea Utara sedang menunjukkan kepada dunia bahwa kemesraan mereka belum berakhir. Justru sedang disusun ulang untuk menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: