Trauma Pasca-Persalinan: Ketika Ibu Membawa Pulang Luka Psikologis
Mengenal Postpartum Trauma: Sisi Sunyi Ibu yang Terluka Setelah Melahirkan.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Melahirkan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proses medis. Ia adalah pengalaman hidup yang sangat kompleks, yang menyentuh tubuh, emosi, dan psikologis seorang perempuan secara bersamaan.
Karena itu, penguatan ibu tidak cukup hanya dengan fasilitas medis yang baik. Ada tiga hal yang tidak bisa diabaikan.
Pertama, komunikasi yang manusiawi di ruang bersalin. Ibu yang sedang melahirkan membutuhkan penjelasan, bukan hanya instruksi.
BACA JUGA:Waspada Learning Loss: Fenomena Candu Gawai saat Libur Sekolah
BACA JUGA:Membela ABK dari Ganasnya Bullying
Kedua, pendampingan emosional selama proses persalinan. Kehadiran pasangan atau tenaga pendamping dapat menjadi penyangga psikologis yang sangat penting.
Ketiga, skrining kesehatan mental setelah melahirkan. Pemeriksaan pasca persalinan tidak boleh berhenti pada kondisi fisik saja, tetapi juga mencakup kondisi psikologis ibu.
Pada akhirnya, melahirkan bukan hanya tentang bayi yang lahir ke dunia. Ia juga tentang seorang ibu yang lahir kembali—dengan tubuh yang baru, pengalaman yang baru, dan kadang luka yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Dan jika perhatian kita hanya tertuju pada bayi yang sehat, tetapi mengabaikan ibu yang terluka, maka kita sedang membiarkan sebagian dari proses kelahiran itu tidak pernah benar-benar selesai.
Karena ada ibu-ibu yang tidak hanya menangis karena bahagia, tetapi juga menangis dalam diam—karena luka yang tidak pernah mereka minta untuk bawa pulang.
*) Dosen Fakultas Psikologi Universitas 45 Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: