Lisa dan Vita

Lisa dan Vita

ILUSTRASI Lisa dan Vita.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Tragedi itu memunculkan gugatan. Bagaimana mungkin sebuah relasi cinta dan hasrat timbal-balik bisa bermutasi menjadi penyiksaan yang sedemikian sadis.

Kekerasan domestik yang ekstrem sering kali berakar pada distorsi rasa untuk memiliki yang berlebihan. Dalam relasi romantis yang patologis, cinta tidak lagi dimaknai sebagai altruisme, ”keinginan membahagiakan orang lain”, tetapi sebagai totalitarianisme eksistensial, penguasaan total terhadap pasangan.

Ketika ego pelaku terancam, ada rasa insecure, tidak aman. Lalu, muncullah dorongan destruktif.  Eros, ”hasrat untuk mencintai”, berbalik menjadi hasrat untuk merusak dan menghancurkan. 

Mulyono di Malang cemburu kepada Lisa yang menjadi kembang desa. Taufik pun demikian. Ia merasa insecure karena takut Vita berhubungan dengan orang lain.

Taufik mengisolasi Vita selama tiga tahun. Ia berbohong dengan mengatakan Vita merantau. Ia berupaya menghapus eksistensi sosial korban. Vita dibuat tidak berdaya agar Taufik memiliki kontrol penuh di dalam ruang penyekapan itu. 

Kata pertama yang diucapkan Vita saat diselamatkan adalah ”minta maaf”. Sebuah bukti betapa jiwanya telah ditundukkan secara total melalui teror berkepanjangan.

Dua kasus itu menunjukkan bahwa ruang domestik dan relasi romantik sering kali disalahgunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan kejahatan kemanusiaan. 

Mulyono dan Taufik memanfaatkan kepercayaan relasi personal untuk memotong akses korban dari dunia luar. Isolasi total melahirkan kekuasaan absolut yang korup dan berlangsung tanpa pengawasan.

Jurnalis dan filsuf Gabriel Possenti Sindhunata alias Romo Sindh menyebut Lisa dan Vita sebagai kambing hitam yang sengaja dikorbankan. 

Mengutip filsuf Rene Girard, Romo Sindhu menjelaskan proses penguasaan seseorang terhadap orang lain. Manusia cenderung menginginkan sesuatu karena meniru orang lain. Hal itu memicu kompetisi, kecemburuan, dan konflik internal. 

Ketika frustrasi internal itu menumpuk dalam diri Taufik dan Mulyono –karena kegagalan hidup, tekanan sosial, atau kekacauan psikologis– terjadilah krisis yang melahirkan energi destruktif berupa kemarahan dan kekerasan.

Energi destruktif itu disalurkan secara tidak sadar dengan mencari kambing hitam. Kambing hitam adalah pihak yang lemah, rentan, terisolasi, dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Seluruh kesalahan, frustrasi, dan dosa internal pelaku ditimpakan kepada sang kambing hitam.

Vita ialah kambing hitam yang sempurna bagi Taufik. Dengan penyekapan itu, Taufik mengalihkan seluruh frustrasi eksistensialnya kepada Vita. Dengan demikian, ia merasa mendapatkan kepuasaan. Juga, mungkin, kedamaian.

Taufik mengisolasi Vita agar ritual kekerasan tersebut bisa berlangsung terus-menerus di ruang privatnya. Menyiksa Vita adalah mekanisme katarsis, pelepasan emosi, yang patologis. 

Vita berbohong kepada dokter dengan mengatakan jatuh dari kamar mandi. Itu  menunjukkan efek psikologis yang mendalam akibat indoktrinasi terus-menerus untuk menerima perannya sebagai korban persembahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: