Bola Cabo
ILUSTRASI Bola Cabo.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Profil Vozinha, Kiper Cape Verde yang Bikin Spanyol Frustasi di Piala Dunia 2026
BACA JUGA:Rating Pemain Spanyol yang Ditahan Imbang Cape Verde 0-0, Depan Tumpul!
Ada tiga faktor yang bisa jadi tempat pembelajaran dari keberhasilan Cabo Verde.
Pertama, diaspora. Itulah modal terbesar Cabo Verde. Jumlah warga keturunan Cabo Verde yang tinggal di luar negeri diperkirakan jauh lebih banyak daripada penduduk yang tinggal di negaranya sendiri.
Anak-anak keturunan Cabo Verde tumbuh di Portugal, Belanda, Prancis, Belgia, dan berbagai negara Eropa yang memiliki sistem pembinaan sepak bola kelas dunia. Mereka masuk akademi profesional sejak kecil, mendapatkan pelatih terbaik, terbiasa dengan kompetisi berkualitas, dan sebagian berhasil menembus klub-klub elite Eropa.
Ada sederet nama pemain timnas Cabo Verde yang main di berbagai klub di Eropa. Sebut saja Logan Costa yang berkarier di Liga Prancis dan Spanyol, Ryan Mendes di Prancis dan Nottingham Forrest, Jovane Cabral sayap kanan produk akademi Sporting CP Portugal, dan masih banyak lagi.
Para diaspora tersebut tetap memiliki hak membela negara leluhur mereka. Federasi sepak bola Cabo Verde mampu membangun komunikasi yang baik dengan diaspora tersebut. Mereka dijadikan bagian bangsa Cabo Verde yang memiliki tanggung jawab bersama membangun negaranya.
Model seperti itu sebenarnya bukan hal baru. Maroko, Aljazair, Senegal, Ghana, Nigeria, hingga Mali mengembangkan strategi yang sama. Bahkan, banyak negara Eropa yang memanfaatkan pemain keturunan dari berbagai belahan dunia.
Kedua, stabilitas demokrasi dan tata kelola negara. Prestasi olahraga tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari institusi yang sehat. Sejak memasuki era demokrasi pada 1990, Cabo Verde relatif berhasil menjaga stabilitas politik.
Pergantian pemerintahan berlangsung damai. Lembaga-lembaga negara bekerja secara konsisten. Korupsi relatif rendah. Iklim investasi juga lebih kondusif. Semua itu memungkinkan organisasi olahraga bekerja dengan visi jangka panjang.
Federasi sepak bola tak harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan perubahan politik. Program pembinaan dapat dijalankan secara berkesinambungan. Sponsor percaya menanamkan investasi. Klub-klub memiliki kepastian untuk mengembangkan akademi.
Ketiga, pembinaan usia dini yang konsisten. Itulah faktor yang paling menentukan. Pemain hebat tidak lahir dalam semalam. Mereka dibentuk melalui proses panjang sejak usia 6 atau 7 tahun.
Di negara-negara maju, pembinaan dimulai dari sekolah sepak bola, akademi klub, kompetisi kelompok umur, dan pelatih berlisensi. Juga, ilmu gizi, sport science, hingga analisis performa. Semua berjalan berjenjang dan saling terhubung.
Setiap pemain berkembang melalui jalur yang jelas menuju sepak bola profesional. Karena itu, prestasi tim nasional sebenarnya adalah hasil investasi belasan tahun sebelumnya.
Di sinilah bangsa kita memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, sebenarnya arah kebijakan sepak bola Indonesia sudah berada di jalur yang benar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: