Nilai TKA Matematika 40, Mengapa Negeri Ini Tidak Gempar?

Nilai TKA Matematika 40, Mengapa Negeri Ini Tidak Gempar?

ILUSTRASI Nilai TKA Matematika 40, Mengapa Negeri Ini Tidak Gempar?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

 BACA JUGA:Anak TK Akan Dapat Pelajaran Matematika, Mendikdasmen: Bentuknya Permainan Interaktif

Ketika data menunjukkan hasil belajar yang memprihatinkan, respons yang muncul justru relatif singkat.

Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah ”mengapa nilai matematika rendah?”

Melainkan, ”mengapa hasil seperti ini belum menjadi krisis nasional?”

Jika rata-rata nilai TKA matematika sekitar 40, pertanyaan berikutnya adalah apa yang dilakukan pemerintah untuk memperbaikinya. Berapa target kenaikan nilai tahun depan?

Siapa yang bertanggung jawab jika target tidak tercapai?

Program apa yang terbukti mampu meningkatkan kemampuan bernalar siswa? Apakah anggaran pendidikan dievaluasi berdasarkan peningkatan hasil belajar?

Tanpa target yang jelas, tanpa indikator keberhasilan yang terukur, dan tanpa evaluasi yang konsisten, angka-angka tersebut hanya akan menjadi laporan tahunan yang segera dilupakan.

Yang kita butuhkan bukan sekadar anggaran yang besar, melainkan juga akuntabilitas yang besar.

Sudah saatnya keberhasilan pendidikan diukur dari kemampuan siswa dalam membaca, berhitung, dan bernalar, bukan semata-mata dari banyaknya program, besarnya anggaran, atau indahnya slogan.

Sebab, pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh berapa triliun rupiah yang dibelanjakan, tetapi oleh seberapa baik anak-anak Indonesia mampu berpikir, memecahkan masalah, dan menciptakan solusi.

Nilai TKA matematika sekitar 40 seharusnya menjadi alarm nasional. 

Pertanyaannya, sekali lagi, mengapa alarm itu belum cukup keras untuk membangunkan kita? (*)

*) Yusuf Mansur adalah penulis, pengusaha, dan pimpinan Ponpes Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: