Sound Horeg dan Imperialisme Akustik
ILUSTRASI Sound Horeg dan Imperialisme Akustik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Kekerasan ekologis juga hadir dalam bentuk yang meninggalkan jejak tak kasatmata bagi manusia dan nonmanusia, yakni dimensi sensoris, khususnya suara.
Kekerasan karena kebisingan ekstrem sound horeg disebut ”invisible” atau tak tampak. Tidak mudah mengidentifikasi implikasi fisiknya, tetapi efeknya dapat dirasakan. Misalnya, membuat jantung berdebar, menyakitkan telinga, dan menyebabkan sakit kepala.
Selain sound horeg, beberapa contoh lain polusi akustik adalah ledakan yang dibuat manusia, suara mesin, dan deru kendaraan bermotor.
Pada nonmanusia, banyak studi yang berhasil membuktikan kekerasan ekologis berbentuk polusi akustik (acoustic pollution) memberikan dampak buruk kepada hewan.
Di antaranya, berkurang atau bahkan hilangnya kemampuan hewan untuk mendengar sinyal bahaya akibat rusaknya ceruk akustik (acoustic niche), yakni frekuensi suara khusus pada satwa (misalnya burung) yang digunakan untuk berkomunikasi.
Contoh lain bisa disaksikan di lautan. Paus atau lumba-lumba mengalami disorientasi spasial dan kegagalan navigasi karena terganggu oleh sonar militer yang mengakibatkan mereka mati terdampar.
Polusi akustik juga memicu trauma ekologis pada satwa darat berupa stres kronis, terjadinya lonjakan hormon kepanikan, dan peningkatan detak jantung satwa liar yang berada di sekitar sumber suara.
Invasi, Dominasi, dan Imperialisme Akustik
Jangkauan luas kebisingan sound horeg menjadi bentuk invasi ”ruang privat” manusia dan nonmanusia secara perlahan tetapi sistematis. Invasi kebisingan mendominasi habitat tenang hewan yang bergantung pada suara untuk bertahan hidup.
Kebisingan menutup dan mengalahkan suara alam. Akibatnya, banyak hewan yang makin kehilangan kemampuan dasar untuk beradaptasi. Antara lain, kemampuan mencari pasangan, berkomunikasi dalam kelompok, dan menghindari predator.
Saat invasi terus terjadi, relasi antara manusia-nonmanusia kehilangan harmoni. Keseimbangan tergantikan oleh hierarki: kebisingan ekstrem buatan manusia telah mendominasi komposisi suara alami. Dalam konsep soundscape-nya, R. Murray Schafer menyoroti hal itiu sebagai bentuk imperialisme akustik. Yakni, manusia secara agresif telah menjajah ruang suara.
Sound horeg menjadi wajah dominasi mutlak ruang udara oleh manusia. Manusia memegang kontrol ruang suara yang menembus area privat makhluk lain tanpa batas. Operator sound horeg berkuasa menentukan untuk siapa suara diperdengarkan dan siapa yang tak memiliki pilihan sebagai pihak terdampak.
Schafer menyebutnya sebagai upaya menenggelamkan (masking) ”ceruk akustik” (accoustic niche), sebuah istilah yang dipopulerkan Bernie Krause dalam teorinya tentang ceruk akustik (accoustic niche hypothesis).
Imperialisme akustik merampas hak agensi nonmanusia (silencing the nonhuman) dan mendesakralisasi suara alam. Nonmanusia hanya memiliki dua opsi: menyesuaikan diri atau tersingkir.
Tidak ada opsi negosiasi sebagai pilihan di antara. Hewan-hewan dipaksa meninggalkan habitat gegara teror fragmentasi akustik. Suara mereka sekadar menjadi ”interupsi sepi” dan hanya dianggap sebagai komoditas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: