Menikmati Imaji Artscape di Galeri DesignHub Surabaya: Kenangan dan Semangat dalam Monokrom

Menikmati Imaji Artscape di Galeri DesignHub Surabaya: Kenangan dan Semangat dalam Monokrom

CHRISTIAN TICUALO memandang karyanya yang bertajuk Simpang Lima: Songoyudan, K.H Mas Mansyur, Nyamplungan, Dukuh, dan Kertopaten di Galeri DesignHub Surabaya.-Ilmi Bening-Harian Disway

Komunitas Urban Sketcher Surabaya menyuguhkan karya seni monokrom di Galeri DesignHub Surabaya. Mengusung tema Imaji Artscape, pameran memadukan nilai seni dan building material.

TIGA unsur berpadu dalam pameran yang menandai pre-launching Galeri DesignHub Surabaya pada Sabtu, 4 Juli 2026, tersebut. Ada sejarah lokal, kedalaman spiritual, dan eksotisme lanskap mancanegara.

Louis Lie, kurator galeri, mengatakan bahwa galeri yang terletak di lantai dua itu dirancang sebagai tempat nongkrongnya para arsitek di Kota Pahlawan. Baik hanya sekadar kumpul-kumpul, atau kerja bareng. Nantinya, akan ada kafe juga di sana.

"Di sini juga berdiri kantor Sekretariat Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jawa Timur," katanya kepada Harian Disway. Informasi itu juga sudah disampaikannya kepada para seniman. 

BACA JUGA:Segera Hadir, Galeri DesignHub Wadahi Seniman dan Arsitek, Sediakan Ruang Pamer dan Coworking Space

BACA JUGA:Desainer Manfaatkan 3D Printing untuk Ciptakan Alat Makan Futuristis di 3 Days of Design

"Para desainer butuh lukisan dan karya seni lainnya untuk melengkapi desain mereka," imbuh Louis tentang konsep galeri di lokasi yang sama dengan showroom dan tempat kurasi material bangunan serta interior tersebut. 

Siang itu, galeri dipenuhi lukisan dan sketsa dalam warna-warna monokrom. Kendati tak banyak warna, karya seni itu mengandung cerita dan makna. Lukisan Christian Ticualo, misalnya. Seniman sekaligus arsitek itu menghadirkan kawasan Songoyudan di sekitar Pasar Pabean, dalam lukisannya. 


LUKISAN menjadi bagian penting dari interior. Sejajar dengan kaca, tirai, rak, pigura, dan patung.-Ilmi Bening-Harian Disway

Kenangan dan nostalgia semacam itu, menurut Tic, banyak dicari kliennya. Lukisan, menurut pengakuan para kliennya di bidang arsitektur, punya fungsi yang sama dengan cermin, tirai, karpet, dan foto. 

"Terkadang sulit menemukan lukisan yang cocok di Surabaya," ujar pria kelahiran Surabaya itu. Karena itulah, ia juga melukis. Menurutnya, lukisan Songoyudan yang dipamerkan hari itu juga merupakan request dari customer. Sebab, sang klien dulunya tinggal di Songoyudan. 

BACA JUGA:Vibe Design 2026: Tren Ubah Homescreen Jadi Estetik, Simpel tapi Bikin Nagih

BACA JUGA:Lewat Alumni Talk Beyond Design, Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Diajak Menyusun Arah Karier Kreatif

"Jadi, bisa untuk kenang-kenangan. Mengingatkannya pada  masa kecil. Sekarang, dia sudah sukses dan tinggal di Australia. Rumah yang dulu ditinggalinya itu jadi toko saja," jelas Tic. 

Ia menamai karyanya Simpang Lima: Songoyudan, K.H Mas Mansyur, Nyamplungan, Dukuh, dan Kertopaten. Itu karena yang ia gambarkan memang jalan yang bercabang.

Lelaki yang sehari-hari adalah dosen Ilmu Arsitektur di Universitas Ciputra tersebut mengatakan bahwa lukisannya tidak asal dibikin. Ia melewati tahap riset dan pengayaan dulu sebelum menuangkan gagasannya dalam karya. 

"Ada foto dari sudut sini, sudut sana, lalu saya gabungkan. Saya juga datang langsung ke lokasi untuk memotret kondisinya yang sekarang," imbuh alumni Petra Christian University (PCU) itu.

BACA JUGA:Boathouse Beratap Ilalang di Suffolk, Padukan Arsitektur Tradisional dan Tahan Banjir

BACA JUGA:Lengkung dan Warna Berani Ubah Rumah di Mumbai Jadi Instalasi Arsitektur yang Artistik


PATUNG karya Henry Siswanto berjudul Vertical Root Sculpture membawa makna adaptasi dan motivasi. -Ilmi Bening-Harian Disway

Selain lukisan, interior dalam ruangan juga sering kali melibatkan patung. Galeri DesignHub Surabaya memamerkan patung berbentuk akar karya Henry Siswanto.

Dalam proses pengerjaannya, pria kelahiran 1981 itu menggunakan teknik tempa dan pengelasan. Patung akar bertajuk Vertical Root Sculpture itu dirangkainya dari sisa-sisa material besi. 

Akar yang menghadap ke atas membawa pesan tentang penyesuaian diri terhadap kondisi lingkungan. Akar merupakan bagian vital dari pohon yang bertugas untuk mencari makanan. Filosofinya sama dengan pekerjaan yang menuntut manusia mampu beradaptasi dengan segala tantangan.

"Setiap perjalanan besar tidak selalu dimulai dengan langkah yang sempurna. Terkadang ia lahir dari akar yang berani bertahan, lalu perlahan merentangkan harapan ke segala arah." Demikian bunyi tulisan yang terpampang pada patung akar tersebut.

BACA JUGA:RSHP Bangun Pusat Konvensi Raksasa di Tiongkok dengan Arsitektur Ramah Lingkungan

BACA JUGA:Obama Presidential Center, Arsitektur Unik Hadirkan Menara Granit Monumental di Chicago

Patung besi dengan warna yang sengaja dibuat gelap agar mirip akar betulan itu, menurut Henry, cocok dijadikan ornamen kantor. Apalagi, jika ruangannya didominasi warna-warna cerah atau putih. 

"Saya pribadi lebih setuju jika patung ini diletakkan di kantor," katanya. Itu karena filosofi akar dan kehidupan itu sangat dekat dengan pekerjaan. Menurutnya, jika diletakkan di kantor, patung itu tidak akan sekadar menjadi hiasan, tapi juga motivasi. 

"Bisa menjadi pengingat agar lebih semangat bekerja," ucap Henry. Namun, motivasi untuk bekerja tidak harus muncul di kantor kan? Bagaimana menurut Anda? (*)

BACA JUGA:Rever & Drage Perluas Rumah Pedesaan Norwegia dengan Desain Arsitektur Lumbung Bertingkat

BACA JUGA:Juara Surabaya Tourism Awards 2026: Kelenteng Sanggar Agung Suguhkan Harmoni Budaya dan Arsitektur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: