Ngglundung: Membaca Modernitas dari Sebuah Kata Jawa
Ilustrasi by chatGPT--

Ignatius Dedy.--
BAHASA tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Di dalam bahasa tersimpan cara suatu masyarakat memahami kenyataan. Karena itu, tidak sedikit konsep besar dalam ilmu sosial lahir dari sebuah kata yang kemudian berkembang menjadi kerangka berpikir. Émile Durkheim memperkenalkan anomie untuk menjelaskan pudarnya orientasi normatif masyarakat modern. Anthony Giddens menggunakan metafora juggernaut untuk menggambarkan modernitas sebagai kendaraan raksasa yang terus melaju tanpa pernah sepenuhnya dapat dikendalikan. Zygmunt Bauman kemudian memperkenalkan liquid modernity, ketika seluruh sendi kehidupan menjadi cair, berubah cepat, dan kehilangan kepastian.
Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, bahasa Jawa sesungguhnya memiliki sebuah istilah yang tidak kalah kaya untuk membaca fenomena tersebut, yaitu ngglundung.
Dalam pengertian sehari-hari, ngglundung berarti menggelinding. Akan tetapi, makna filosofisnya jauh lebih dalam. Istilah ngglundung menggambarkan sebuah gerak yang lahir dari momentum. Begitu sesuatu mulai menggelinding, kecepatannya bertambah dengan sendirinya, arahnya semakin sulit dikendalikan, dan siapa pun yang berada di hadapannya berpotensi ikut terseret.
Metafora ini tampaknya semakin relevan untuk membaca kehidupan kontemporer.
BACA JUGA:Sejumlah Wilayah di Jawa hingga Maluku Mulai Dilanda Kekeringan Ekstrem
BACA JUGA:Kemarau Meluas: Ribuan Warga di Jawa Tengah dan NTB Mulai Krisis Air Bersih
Masyarakat modern bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Kebijakan publik berubah silih berganti. Institusi terus melakukan penyesuaian. Dunia pendidikan berlomba mengejar pengakuan internasional. Dunia keagamaan memperkaya program pastoral. Negara menyusun berbagai strategi pembangunan. Seluruh aktivitas tersebut menunjukkan dinamika yang luar biasa.
Namun, di balik seluruh percepatan itu, muncul sebuah pertanyaan yang semakin jarang diajukan: ke mana sebenarnya seluruh gerak tersebut sedang diarahkan?
Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari konsep anomie Durkheim. Menurutnya, masyarakat modern tidak mengalami kekurangan aktivitas, melainkan kehilangan orientasi normatif. Institusi tetap berjalan, aturan tetap ada, pekerjaan terus dilakukan, tetapi tujuan bersama menjadi kabur. Yang tersisa hanyalah mekanisme yang terus berputar.
Di titik inilah anomie bertemu dengan ngglundung. Yang satu menjelaskan hilangnya orientasi, sementara yang lain menggambarkan bagaimana masyarakat tetap bergerak melalui momentum yang sudah terlanjur terbentuk.
Anthony Giddens melengkapi pembacaan tersebut melalui metafora juggernaut. Modernitas diibaratkan sebagai kendaraan raksasa yang mampu membawa manusia menuju kemajuan luar biasa. Akan tetapi, kendaraan itu juga memiliki kecenderungan keluar dari kendali. Bahkan para perancangnya sendiri tidak selalu mampu mengendalikan konsekuensi yang ditimbulkan oleh sistem yang mereka bangun.
BACA JUGA:Hari Tari Sedunia di Taman Budaya Jawa Timur, Sarana Mengenalkan Tari Tradisional pada Generasi Muda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: