Lorong Yatra Ari Dwipayana
SALAH SATU pertunjukan bernuansa spiritual bertajuk Sastra Saraswati Seswana Yatra 2026 di Candi Tegowangi, Kediri.-Arif Afandi untuk Harian Disway -
TADINYA hanya berniat menemani teman lama. Mantan Duta Besar RI di Jepang Heri Ahmadi yang diundang menonton pertunjukan budaya di Candi Tegowangi, Kediri. Pertunjukan bernuansa spiritual bertajuk Sastra Saraswati Seswana Yatra 2026.
Peristiwa kebudayaan yang digelar Yayasan Puri Kauhan Ubud itu diprakarsai A.A.G.N. Ari Dwipayana. Kebetulan ia juga kawan lama. Dosen ilmu politik Fisipol UGM yang pernah menjadi juru bicara Presiden Joko Widodo. Kini kembali ke kampung mengelola yayasan itu.
Perjalanan hari itu dimulai dengan pertemuan dengan Hanindhito Himawan Pramana, bupati muda Kediri, alias Mas Dhito. Itu pertemuan lintas generasi pemimpin. Mas Dhito adalah putra Gubernur DKI Pramono Anung yang adik kelas Heri Ahmadi di ITB. Saya lebih banyak jadi pendengar perbincangan mereka.
Dahulu saya suka sekali berkunjung ke kantor Bli Ari –demikian kami biasa memanggil Ari Dwipayana– karena banyak lukisan bagus dipajang di ruangannya. Apalagi, waktu itu banyak kawan yang berkantor di tempat sama. Misalnya, Mensesneg Pratikno dan Sukardi Rinakit, stafsus presiden bidang komunikasi.
Di Candi Tegowangi itu, saya menyaksikan perjalanan intelektual sekaligus spiritual Bli Ari Dwipayana. Dari seorang yang fasih bicara teori-teori demokrasi dan kebijakan publik menjadi seorang yang lancar bertutur tentang budaya. Jejak budaya yang membangun peradaban Nusantara.
Sastra Saraswati Seswana Yatra 2026 yang dipimpin Bli Ari itu tak hanya berhenti di Candi Tegowangi. Candi di Kediri tersebut hanyalah satu simpul dalam perjalanan panjang menelusuri jejak peradaban Nusantara.
Muhibah kebudayaan tersebut dimulai dari Banyuwangi. Menyusuri berbagai situs sejarah dan ruang-ruang budaya di Jawa Timur. Lalu, singgah di Candi Tegowangi. Terus, berlanjut ke Keraton Mangkunegaran. Dan, titik penutup di Candi Prambanan.
Itu perjalanan menarik yang sedang ditapaki Bli Ari. Setelah tak lagi berkantor di istana, rupanya ia memilih jalan lain. Kembali ke kampung halaman. Memimpin lembaga. Menelusuri jejak kebudayaan. Mengamati manuskrip di lontar, relief di candi-candi. Menerjemahkan menjadi sebuah pesan kehidupan.
Rupanya ia memilih jalan menanjak. Dari dunia politik praktis menuju politik nilai. Merajut ingatan kolektif bangsa melalui penelusuran jejak-jejak peradaban Nusantara. Ia tak berhenti menulusuri, tapi juga menerjemahkan menjadi pesan dalam bentuk perjalanan kebudayaan dan tontonan tari topeng dan wayang orang.
Ia tidak berhenti pada penelitian atau dokumentasi. Ia menghidupkannya kembali dalam bentuk perjalanan kebudayaan, dialog lintas komunitas, pertunjukan tari topeng, wayang wong, dan pembacaan sastra klasik. Juga, berbagai ekspresi seni yang membuat masa lalu kembali berbicara kepada masa kini.
Saya kemudian bertanya dalam hati, mengapa seorang ilmuwan politik memilih menghabiskan energinya membaca candi? Bukankah ia bisa tetap menjadi pengamat politik? Menjadi komisaris BUMN, anggota lembaga negara, atau tetap berada di orbit kekuasaan seperti banyak tokoh lain setelah meninggalkan istana?
Rupanya setiap orang memiliki panggilan hidupnya sendiri. Barangkali Bli Ari menyadari bahwa politik memiliki keterbatasan. Politik mampu mengubah undang-undang, membangun jalan, menyusun anggaran, bahkan mengganti pemerintahan.
Namun, politik tidak selalu mampu membangun kesadaran. Kesadaran dibentuk oleh kebudayaan. Bangsa tidak hanya disatukan oleh konstitusi. Bangsa juga disatukan oleh cerita yang diyakininya bersama. Oleh ingatan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di sinilah saya mulai memahami mengapa Yatra bukan sekadar festival budaya. Ia adalah perjalanan. Bukan perjalanan wisata. Melainkan, perjalanan menyusuri ingatan. Menyambungkan simpul-simpul sejarah yang tercerai-berai oleh batas administrasi. Juga, ego kedaerahan dan cara kita mempelajari sejarah yang terlalu terkotak-kotak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: