Program PJJ Kemendikdasmen: 109 Anak Tidak Sekolah di Jatim Siap Kembali Belajar
Kepala Dindik Jawa Timur Aries Agung Paewai-Dindik Jatim-
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Provinsi Jatim mencatatkan progres signifikan dalam upaya pengentasan Anak Tidak Sekolah (ATS), Rabu 5 Agustus 2026.
Jatim kini memimpin sebagai provinsi dengan jumlah calon peserta didik terbanyak pada program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tingkat nasional. Yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Berdasarkan data kementerian per 31 Juli 2026, lebih dari 700 ATS di seluruh Indonesia telah terverifikasi siap belajar. Dari angka tersebut, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim berhasil menjaring dan mengusulkan 124 ATS.
Hasilnya, 109 anak dinyatakan resmi lolos verifikasi, sementara 15 calon murid lainnya masih dalam tahap penyelesaian validasi. Capaian ini menempatkan Jatim di peringkat pertama nasional.
BACA JUGA:PKK Garda Terdepan Wujudkan Gresik Bebas Stunting dan Putus Sekolah
BACA JUGA:Anak Putus Sekolah Jadi Korban TPPO, Tujuh Pelaku Diamankan Polrestabes Surabaya
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengungkapkan, tingginya angka ATS masih menjadi tantangan krusial bagi dunia pendidikan. Meski telah ada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) hingga sekolah terbuka, kehadiran PJJ dinilai memberikan terobosan baru yang patut dimaksimalkan.
"Sebagai ikhtiar memperluas akses pendidikan, kami merespons program pusat ini dengan penjaringan masif. Petugas kami turun langsung door to door. Alhamdulillah, usulan 124 calon murid ini menjadi yang terbanyak se-Indonesia," ujar Aries di Surabaya.
Penjaringan di Jatim dilakukan lewat dua mekanisme. Jemput bola ke masyarakat dan pendaftaran mandiri. Setelah terdata, Kemendikdasmen melakukan verifikasi ketat. Syarat utamanya untuk anak bis ikut PJJ adalah berusia 16–18 tahun (untuk kelas X), tidak berstatus siswa aktif di sekolah lain, dan melengkapi administrasi kependudukan serta ijazah jenjang SMP/sederajat.
Guna mewadahi para siswa tersebut, Dindik Jatim telah menetapkan enam sekolah negeri sebagai penyelenggara. SMAN 1 Kepanjen ditunjuk sebagai sekolah induk. Sementara itu, lima sekolah lain bertindak sebagai sekolah mitra, yaitu SMAN Plus Sukowono, SMAN 1 Tosari, SMAN 4 Bangkalan, SMAN 4 Malang, dan SMAN 1 Ambunten."Skema pembelajarannya sangat fleksibel. Komposisinya 30 persen tatap maya (sinkron) dan 70 persen belajar mandiri (asinkron)," papar Aries.
Para peserta juga difasilitasi modul, bantuan kuota internet, akun Belajar.id, akses Learning Management System (LMS), pendampingan guru, hingga nantinya mendapat ijazah setara sekolah reguler.
Upaya jemput bola Jatim ini sejalan dengan visi pemerintah pusat. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq menegaskan, PJJ merupakan wujud komitmen nyata negara untuk hadir langsung ke akar rumput. "PJJ adalah jembatan meraih cita-cita. Ini bentuk kehadiran negara yang tidak sekadar menunggu, tapi aktif menjemput bola," tegas Fajar.
Untuk menjaga standarisasi, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, memastikan kualitas layanan tidak dikesampingkan. Kemendikdasmen telah menggandeng Universitas Terbuka (UT) dan SEAMEO SEAMOLEC dalam mengawal penjaminan mutu.
"Karena itu, sekolah yang ditunjuk sebagai induk dipastikan berakreditasi A. Ke depan, dari 1.000 lebih ATS yang teridentifikasi secara nasional dan 700 yang sudah siap belajar, jangkauan ini akan terus kami perluas melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah," pungkas Tatang. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: