Menilik Industri Robotika Tiongkok yang Kian Maju: Robot Pun Cari Pekerjaan
ANAK-ANAK BERMAIN bersama robot Pangda di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.-JADE GAO-AFP-
Sekolah tersebut bahkan akan menerbitkan sertifikat kemampuan. “Seperti ijazah manusia,” kata Zhao Han, wakil direktur lembaga Zhejiang University yang mengelola sekolah tersebut.
Di Tiongkok, robot mulai muncul dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa pekerjaan sedang diuji. Mengarahkan lalu lintas. Membersihkan rumah. Bekerja di lantai pabrik.
Namun robot membutuhkan sesuatu yang sangat besar untuk bisa bekerja secara mandiri. Yakni: data.
Dan perlombaan robot Tiongkok dan Amerika Serikat pun mulai menguat.
Pada Juli 2026, Washington melarang impor robot humanoid dan robot berkaki empat dari luar negeri dengan alasan keamanan nasional. Larangan itu secara efektif membuka front baru dalam perang teknologi.
Tiongkok memiliki keunggulan dalam skala manufaktur, integrasi rantai pasok, dan daya saing biaya. Amerika Serikat lebih kuat dalam perangkat lunak dan riset mutakhir.
Namun para pelaku industri Tiongkok tampaknya belum terlalu terganggu oleh pasar Amerika.
Menurut Rui Ma, pendiri buletin Tech Buzz China, perusahaan-perusahaan robotika Tiongkok lebih sibuk mengejar terobosan teknologi berikutnya. Mereka juga sedang mencari tahu teknologi mana yang benar-benar bisa berkembang secara komersial. Pasar Amerika hanya menyumbang sebagian kecil pendapatan sebagian besar perusahaan.
Tiongkok sendiri menguasai lebih dari 90 persen pasar humanoid, menurut Counterpoint Research.
Tetapi ada risiko yang jauh lebih besar daripada kehilangan pasar Amerika. Risikonya adalah ekspektasi.
Valuasi perusahaan-perusahaan robotika itu dibangun di atas keyakinan bahwa robot pada akhirnya akan menjadi mesin serbaguna. Robot yang mampu bertindak seperti manusia.
Jika janji itu gagal diwujudkan, konsekuensinya bisa sangat besar. “Gagal mewujudkannya akan menjadi pukulan yang sangat besar,” kata Su.
Sementara itu, Wuji masih menjalani masa magang. Dia masih belajar. Masih gugup ketika menyambut tamu.
Tetapi di balik robot kecil yang sedang berlatih itu, ada pertaruhan besar Tiongkok. Bukan sekadar tentang siapa yang mampu membuat robot berjalan. Melainkan siapa yang mampu membuatnya benar-benar bekerja. Untuk manusia. Bukan menggantikannya… (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: