Menjelajah Lautan Teduh (9): Pengingat Sebagai Diplomat Bangsa
PENYERAHAN TALI ASIH dari Panglima Koarmada 3 Laksamana Muda Dato Rustam S.N. kepada perwakilan Satgas Terpadu Port Visit 2026.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Tujuh hari di laut, KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 akhirnya berlabuh di dermaga Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XIV Sorong, Minggu, 20 September 2026. Kapal bantu rumah sakit itu beristirahat. Kami, para anggota Satgas Terpadu Port Visit 2026, pun punya kesempatan me-recharge banyak hal. Mulai logistik hingga spirit.
DARATAN itu terasa sangat dekat. Cukup membuat kami bersemangat. Sebab, sekitar sepekan, yang kami lihat hanyalah kaki langit yang menyentuh air laut. Hanya sesekali terlihat pulau. Itu pun dari jauh. Kecuali, saat kami melintasi Selat Selayar di bawah Sulawesi Selatan, Kamis, 17 September 2026.
Seruan “peran parade” dari anjungan menjadi penanda bahwa kami akan berlabuh. Seruan itu mengharuskan kami berbaris di lambung kapal. Menghadap ke arah dermaga yang akan disandari KRI Wahidin Sudirohusodo-991.
Sekitar pukul 10.00, dibarengi dengan peluit kapal yang sangat keras, dermaga perlahan mendekat. Dua kapal pandu mendorong kapal putih yang kami naiki.
BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (8): Aktif di Sanggar Seni Sebelum Jadi Tentara
BACA JUGA:HIMAKOTA Untag Surabaya Sukses Gelar Niskala Communication Journey 2026 Sambut Mahasiswa Baru
Setelah kapal menyentuh daratan, kami tidak langsung turun. Sebab, kami harus menyambut Panglima Koarmada 3 Laksamana Muda TNI Dato Rusman Sutan Nurdin, S.E., M.Si., M.Tr.Opsla.
Laksamana dengan dua bintang di pundak itu tidak hanya mengecek kesiapan kapal dan satgas. Ada hal yang juga cukup penting: menyemangati. Tidak hanya karena kami sudah sepekan lebih di laut. Tetapi, perjalanan selanjutnya lebih menantang.
Ya, selepas dari Sorong, kami akan langsung menuju Vanuatu. Perjalanan diperkirakan 11 hari. Lewat Samudera Pasifik alias Lautan Teduh. Nonstop.
’’Luruskan niat, bulatkan tekad, lakukan yang terbaik,’’ ucap panglima yang pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) tersebut.

PERTANYAAN dari Rizkya Dwijayanti, dosen prodi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Untag Surabaya kepada Aqua Dwipayana (kanan).-Doan Widhiandono-
Dato Rusman juga mengingatkan bahwa tugas yang kami emban tidak main-main. Yakni, menjadi diplomat. ’’Apalagi, tugas Angkatan Laut itu sebenarnya ada tiga. Yaitu, pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, dan diplomasi,’’ katanya.
Satgas ini pun juga cukup istimewa. Tidak hanya gabungan tiga matra TNI, tetapi juga melibatkan dokter, paramedis, akademisi, mahasiswa, hingga jurnalis. ’’Ini sangat bersejarah. Satu-satunya di Indonesia,’’ katanya.
Soal diplomasi dan hubungan antarnegara, Dato Rusman memang paham betul. Ia adalah perwira TNI pertama yang mendapat penghargaan Wussam Attaqdir al Askarie dari Angkatan Bersenjata Lebanon pada 2012. Itu saat Dato menjadi Komandan KRI Hasanuddin-366 sekaligus Komandan Satgas MTF XXVIII-D/UNIFIL 2012. Ia sukses mengemban misi perdamaian PBB untuk menjaga wilayah perairan Lebanon bersama unsur-unsur dari negara lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: