Transaksi LCT Semester I 2026 Tembus USD42 Miliar, Melonjak 259 Persen
Thomas Djiwandono membantah bahwa anggapan terpilihnya menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), kerena keponakan Presiden RI Prabowo Subianto.--Anisha Aprilia
JAKARTA, HARIAN DISWAY- Ekspansi ekonomi lintas negara kian masif. Hal tersebut terlihat dari lonjakan transaksi Local Currency Transaction (LCT) yang menembus angka USD42,07 miliar pada semester I-2026.
Capaian itu meroket hingga 259 persen (year-on-year/yoy) jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD11,72 miliar. Bahkan, nilai transaksi dalam setengah tahun pertama ini telah melampaui total realisasi sepanjang 2025 yang tercatat sebesar USD25,74 miliar.
Kinerja LCT tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas A. M. Djiwandono dalam ajang Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin 28 September 2026.
Thomas menegaskan, meluasnya konektivitas ekonomi global menuntut layanan kebanksentralan yang andal, efisien, dan aman. "Kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional," ujar Thomas dalam keterangan resmi dikutip pada Selasa 29 September 2026.
BACA JUGA:Total Transaksi QRIS Semester I Tembus Rp600 Triliun, BI Perkuat Pelindungan Konsumen Digital
BACA JUGA:ShopeePay Dukung Adopsi QRIS Nasional, Hadirkan Pasti Cashback Saldo hingga Rp100.000 untuk Pengguna
Penggunaan LCT sendiri dirancang untuk mendorong pemanfaatan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Langkah tersebut dinilai efektif dalam memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus mempermudah arus perdagangan serta investasi dengan negara-negara mitra.
Hadirnya skema LCT kini mencakup tujuh negara mitra strategis Indonesia. Yakni Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. BI memastikan kerja sama tersebut akan terus diperluas dengan negara-negara mitra lainnya guna memperkokoh stabilitas keuangan nasional.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengingatkan pentingnya membangun ketahanan ekonomi sebelum krisis benar-benar terjadi. Menurutnya, ketahanan bukan sekadar kemampuan menghadapi guncangan, melainkan soal adaptasi dan menjaga kepercayaan publik.
"Ketahanan perlu dibangun melalui kebijakan yang kredibel, institusi yang kuat, tata kelola yang baik, adaptasi berkelanjutan, dan kerja sama," tegas Juda. Ia menambahkan, sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, serta sektor keuangan menjadi kunci mutlak untuk merespons dinamika global dan perkembangan teknologi.
Mengusung tema "Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth", CB Fest 2026 turut membedah dampak eskalasi geopolitik terhadap stabilitas ekonomi. Diskusi panel dalam forum ini melibatkan berbagai pakar dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), akademisi ITB dan University of Melbourne, serta praktisi global seperti Deloitte dan J.P. Morgan Asia Pacific.
Para pakar sepakat bahwa ketidakpastian global menuntut respons kebijakan yang adaptif. Selain penguatan manajemen risiko, pemanfaatan teknologi mutakhir seperti kecerdasan artifisial (AI) dan generative AI didorong untuk mendongkrak efisiensi serta transformasi intelligent reporting, tanpa mengabaikan aspek transparansi dan akuntabilitas. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: