Menjelajah lautan Teduh (16): Diplomacy is Kindness…!

Menjelajah lautan Teduh (16): Diplomacy is Kindness…!

AKTIVITAS TIM BAKSOS Satgas Terpadu Port Visit 2026 di main deck KRI Wahidin Sudirohusodo-991 ketika menata bahan bantuan sosial.-Tim Satgas Terpadu Port Visit 2026 Untag Surabaya-

Hari ini, Jumat, 2 Oktober 2026, KRI dr Wahidin Sudirohusodo sudah merapat ke Port Villa, Vanuatu. Kehadirannya dalam Satgas Terpadu Port Visit 2026 membawa pesan. Bahwa diplomasi bisa hadir dan kuat dengan wajah penuh belas kasih.

ACARA selama bersandar di Vanuatu memang cukup padat. Kapal dibuka. Masyarakat datang berkunjung. Anak-anak melihat isi kapal. Pasien datang berobat. Kesenian dipertunjukkan. Diplomat bertemu. Makan bersama. Berbincang tanpa meja negosiasi yang kaku.

Di situlah kekuatan bekerja dengan cara yang lebih halus.

Joseph S. Nye Jr., ilmuwan politik dari Harvard, memperkenalkan konsep soft power. Itulah kemampuan sebuah negara mendapatkan apa yang diinginkannya bukan melalui paksaan atau imbalan, melainkan melalui daya tarik.

BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (15): Tugas Kemanusiaan di Tengah Perjalanan

BACA JUGA:Tim PkM Untag Surabaya Kembangkan Digital Heritage Tari Tradisional di Sanggar Mugi Lestari

Jika hard power bekerja dengan tekanan atau pemberian insentif, soft power bekerja dengan membuat pihak lain tertarik, menghargai, dan pada akhirnya ingin membangun hubungan.

Satgas Terpadu Port Visit 2026 bisa dibaca dari perspektif itu.

Bakti sosial, misalnya, bukan sekadar kegiatan kemanusiaan yang selesai ketika obat terakhir diberikan kepada pasien. Ia adalah perjumpaan. Negara hadir bukan sebagai sesuatu yang abstrak di balik bendera. Tetapi, ada orang-orang yang menyentuh, mendengar keluhan, memeriksa kesehatan, dan membantu mereka yang membutuhkan.

Dan disitulah ada satu hal menarik: diplomasi ternyata tidak selalu harus dilakukan oleh diplomat.


SUASANA MAIN DECK KRI Wahidin Sudirohusodo-991, tempat barang-barang bantuan sosial dipersiapkan. -Tim Satgas Terpadu Port Visit 2026 Untag Surabaya-

Para mahasiswa dan relawan yang ikut dalam Satgas Terpadu Port Visit 2026, misalnya, mungkin tidak datang dengan gelar diplomat di dada. Mereka bukan negosiator yang duduk di ruang konferensi dengan dokumen perjanjian di hadapan mereka.

Tetapi ketika mereka berbicara dengan masyarakat setempat, membantu kegiatan sosial, berinteraksi dengan pasien, memperkenalkan budaya Indonesia, atau sekadar bertukar cerita, mereka sedang membawa sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri: wajah Indonesia.

Mereka adalah diplomat dengan cara yang berbeda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: