Menjelajah Lautan Teduh (19): Burung dari Kahyangan Bawa Pesan Cinta

Menjelajah Lautan Teduh (19): Burung dari Kahyangan Bawa Pesan Cinta

PELUKAN HANGAT anak-anak Port Villa Vanuatu, pada Rizkya Dwijayanti, dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-

Ada tiga kata yang merangkum tugas panjang Satgas Terpadu Port Visit 2026: Health, Humanity, Diplomacy. Ketiganya berjalan berbarengan. Termasuk ketika KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 bersandar di Port Villa, Vanuatu, Jumat, 2 Oktober 2026. Hari pertama. Hari yang cukup sibuk.

KAMI sudah harus bersiap di dek 2, tempat penjagaan KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991, ketika dermaga kian dekat. Dan beberapa saat setelah tangga kapal itu diturunkan, kami bergegas turun. Tugas pertama menanti: pertunjukan budaya di Vanuatu Institute of Technologi.

Tim yang berangkat ini berasal dari Sub Satgas Budaya yang dikomandani Lettu Laut (P) Ardi Prihantoro. Di antara kami ada Ferditania Estirahayu (peneliti dari Universitas Pertahanan). Sekira pukul 09.00 waktu setempat itu, Ferditania sudah sangat siap. Parasnya sudah dirias. Sudah pula memakai kemben dan rok lebar keemasan. Corak Bali.

Maklum, penggemar running itu harus tampil di kampus yang kami tuju. Yang dipersiapkannya adalah Tari Cenderawasih. Tari ini cukup ikonik. Penciptanya adalah I Gede Manik pada dekade 1920-an. Seabad silam. Aslinya ditarikan dua orang, melambangkan dua burung cenderawasih yang bercengkerama.

’’Tari ini ada pakemnya. Juga pakaiannya. Memang harus dipelajari,’’ katanya.

BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (18): Pancasila di Tengah Lautan Teduh

BACA JUGA:Tim PkM Untag Surabaya Kembangkan Digital Heritage Tari Tradisional di Sanggar Mugi Lestari

Tetapi, bagi Ferditania, yang unik bukan hanya gerak tarinya. Ini lambang kesatuan. Lambang cinta. Burung cenderawasih itu asli Papua. Tetapi, ini ada seniman Bali yang menggambarkannya lewat tarian yang begitu indah. Artinya, Papua memang benar-benar menjadi bagian seutuhnya dari Indonesia,’’ tuturnya.

Tari itu digabungkan dengan puisi yang dibawakan oleh Rizkya Dwijayanti dan Doan Widhiandono dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya. Puisinya diciptakan oleh Rizkya. Judulnya: The Bird of Paradise.

Syairnya lugas, bersahaja, namun tetap elok. Rimanya juga terjaga. ’’Saya menulis puisi yang tidak hanya menjelaskan keindahan fisik burung cenderawasih. Tetapi juga mengedukasi masyarakat agar berani berjuang bersama menjaga kelestarian hutan sebagai salah satu anugerah dari Tuhan kepada negeri tercinta,’’ kata dosen yang berulang tahun setiap 17 Agustus tersebut.

Harapan itu tampak pada larik-larik puisinya. Bahwa kita harus stand up and move bravely demi menjaga world sustainability. Kalau itu dilakukan, burung dari kahyangan itu akan tetap lestari bersama seluruh alam. Membuat Papua menjadi true paradise yang menjelma sebagai diamond dan pearl cantik di garis khatulistiwa. Seisi dunia pun tetap lestari.


MUSIKALISASI PUISI The Bird of Paradise oleh Ferditania Estirahayu (penari) dan Doan Widhiandono.--

Selain kami, ada dua mahasiswa asal Papua yang juga ikut dalam kunjungan tersebut. Mereka adalah Maluku Yikwa (Institut Teknologi PLN) dan Brayce Elisa Satia (Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong).

Kedatangan kami disambut mahasiswa, dosen, hingga warga dan anak-anak. Beberapa di antara mereka membawa bendera Merah Putih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: