Mewaspadai Penyakit Influenza yang Mematikan

Mewaspadai Penyakit Influenza yang Mematikan

ILUSTRASI Mewaspadai Penyakit Influenza yang Mematikan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Pada sekitar tahun 2003–2005 kita pernah menjadi pusat pengamatan dunia karena jumlah kasus H5N1 alias flu burung yang tinggi. Jika superflu H3N2 sangat menular tetapi dengan angka kematian rendah, H5N1 sangat mematikan. 

Pada era flu burung tersebut, angka kematian di Indonesia melewati 50 persen. WHO bahkan mencatat angka kematian akibat H5N1 dapat mencapai di atas 80 persen. Hingga saat ini pun kasus H5N1 secara sporadis masih terus dilaporkan, baik pada manusia maupun hewan.

BACA JUGA:Waspada Influenza Tipe A, Kenali Gejala Dan Cara Pencegahannya

BACA JUGA:Barbie Hsu Meninggal Karena Pneumonia Akibat Influenza, Pakar Sebut Ada Kejanggalan

Orang yang terkena influenza akan mengalami demam, linu-linu, batuk, dan mungkin sesak. Tidak ada cara untuk mengetahui penyebab yang pasti selain dari pemeriksaan laboratorium. Setelah melewati masa pandemi, Indonesia memperbanyak fasilitas diagnosis untuk penyakit infeksi saluran pernapasan sehingga saat ini kita mampu mendiagnosis influenza dengan lebih pasti. 

Tes cepat yang lebih murah dan terjangkau bahkan tersedia di banyak rumah sakit di seluruh negara kita. Pemeriksaan yang lebih kompleks memang hanya tersedia di beberapa laboratorium pemerintah dan swasta. 

Karena fasilitas laboratorium pada umumnya sementara ini hanya terkonsentrasi di beberapa kota besar, angka pasien influenza yang sesungguhnya pasti jauh di atas yang dilaporkan.

Penularan influenza mirip dengan Covid-19 sehingga upaya pencegahan dengan cuci tangan, menggunakan masker, menjauhi kerumunan, tidak menyentuh wajah atau permukaan yang berisiko terkena virus Influenza, dan sebagainya, mirip dengan langkah yang telah dilakukan beberapa tahun silam di era pandemi. 

Vaksin influenza sudah hadir sejak zaman tahun 1940-an. Dengan laju mutasi virus yang cepat, vaksin cukup kewalahan mengimbangi sehingga biasanya perlu diulang setiap tahun dan daya perlindungan tidak sangat tinggi atau hanya sekitar 60–70 persen. Setiap tahun orang di negara 4 musim diminta mengulang vaksinasi dan komposisi vaksin berbeda pada setiap musim. 

Wajar jika hal tersebut membuat masa simpan vaksin tidak sangat lama. Belahan dunia utara dan selatan memiliki varian influenza yang sering berbeda sehingga komposisi vaksin dunia utara dan selatan biasanya juga berbeda. Vaksin influenza harus mengandung dua jenis tipe utama virus, yaitu A dan B. WHO meminta saat ini vaksin influenza mengandung 2 komponen A dan 1 komponen B. 

Kelompok orang berisiko tinggi seperti para lansia, orang dengan penyakit atau kondisi komorbiditas lain, ibu hamil, dan anak-anak sangat dianjurkan menerima vaksin influenza. Di Indonesia vaksin itu belum masuk program pemerintah, tetapi di sektor swasta ketersediaan vaksin cukup melimpah. 

Vaksin itu menjadi salah satu rekomendasi juga untuk para jamaah haji dan umrah. Bagi ibu hamil, WHO merekomendasikan 4 vaksin, termasuk influenza.

Obat antivirus untuk influenza masih lebih banyak menggunakan Oseltamivir. Obat itu bisa meringankan gejala dan memperpendek lama sakit. Antivirus untuk influenza memang belumlah sekuat antivirus untuk HIV. Sayang sekali bahwa ketersediaan antivirus influenza kadang nihil di pasaran sehingga memerlukan koordinasi yang lebih kuat untuk mendapatkannya. 

Perawatan lain bagi penderita adalah dengan obat demam, minum yang cukup, istirahat, dan pada satu dua kasus diperlukan oksigen atau perawatan yang lebih intensif. Kematian klasik karena influenza bisa terjadi karena gangguan sistem pernapasan atau juga karena masalah komorbid.

Persoalan infeksi saluran pernapasan karena virus masih akan terus terjadi baik dengan virus yang lama maupun baru. Mutasi virus sama sekali tidak dapat dikendalikan oleh manusia sehingga upaya paling masuk akal adalah dengan mencegah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: