Menjelajah Lautan Teduh (24): Enam Jam Bekerja, Seumur Hidup Mengingat
PENYERAHAN BINGKISAN oleh Komandan Satgas Terpadu Port Visit 2026 Kolonel Laut (P) Benedictus Beny Murwanto (dua dari kanan), Wadansatgas Leo F. Htabarat (kanan), Koordinator Umum Johanna Novita (kiri) di klinik.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Selain anggota TNI-AL, para tenaga medis, ASN, hingga diplomat, salah satu ujung tombak Satgas Port Visit 2026 adalah para mahasiswa. Mereka pun ikut terjun ke masyarakat. Mewujudkan diplomasi menjadi sebuah persabahatan.
ENAM jam bukan waktu yang lama. Namun, bagi Yuniar Dwi Putri dan kawan-kawannya, enam jam di Klinik Saint Camile De Lellis, Anambrou, Vanuatu, menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Pada 3 Oktober 2026, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya itu bergabung dalam kegiatan bakti sosial Satgas Terpadu Port Visit 2026. Mereka tidak datang untuk sekadar berkunjung. Mereka bekerja.
Mengecat dinding, menanam bunga, membuat taman mini, membenahi kabel, memperbaiki atap bocor, hingga mengatur jalur aliran air agar tidak menggenang ketika hujan. Semua dikerjakan bersama-sama. Enam jam berlalu di antara canda dan tawa. Badan memang pegal, tetapi pekerjaan selesai.
BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh ( 23): Ketua Parlemen Vanuatu pun Medical Check-up
BACA JUGA:Tim PkM Untag Surabaya Kembangkan Digital Heritage Tari Tradisional di Sanggar Mugi Lestari
Mereka punya jargon: “Kerja cerdas, kerja ikhlas.” Dalam bahasa anak muda, semuanya harus sat-set, wer-werrr.
Di klinik itu, diplomasi tidak berlangsung di ruang pertemuan. Tidak ada pidato panjang atau dokumen kerja sama yang harus ditandatangani. Yang ada adalah mahasiswa Indonesia dan masyarakat Vanuatu yang bekerja bersama, memperbaiki fasilitas kesehatan yang digunakan warga setempat.
Bagi Yuniar, pengalaman itu justru terasa istimewa karena kebersamaan tumbuh melalui pekerjaan nyata.
Seusai bekerja, mereka memasak dan makan bersama. Menunya: mi instan. Sesuatu yang biasa bagi orang Indonesia ternyata menjadi pengalaman berbeda bagi warga Vanuatu. Mereka bahkan takjub karena merasa sedang makan daging.
Perjumpaan itu memperlihatkan bahwa diplomasi kemanusiaan bisa tumbuh melalui kegiatan sederhana yang memberi manfaat langsung.

KEAKRABAN Yuniar Dwi Putri, mahasiswa Fakultas Psikologis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan warga Port Vila, Vanuatu.-Dok. YUNIAR DWI PUTRI-
Kegiatan mahasiswa tersebut merupakan bagian dari rangkaian Port Visit 2026 di Vanuatu. Subsatgas Bakti Sosial yang dipimpin Kapten Laut (P) Sigit Prajadi menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan pengobatan, menyerahkan bantuan sosial dan sembako. Mereka membantu renovasi terbatas dan menyediakan alat kesehatan bagi klinik.
Bantuan Alquran dan karpet juga diserahkan kepada komunitas Muslim setempat. Selain itu, masyarakat diperkenalkan dengan budaya Indonesia dan informasi beasiswa pendidikan di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: