Aturan Ban Michelin Tuai Protes di Mandalika, Solusi Teknis Terganjal Rivalitas
Insinyur dari Michelin saat mengukur suhu panas permukaan aspal sirkuit Mandalika pada GP Indonesia 2026--Twitter Michelin Motorsport @Michelin_Sport
HARIAN DISWAY - Krisis tekanan ban Michelin kembali mengguncang paddock MotoGP usai drama teknis di GP Indonesia. Meski produsen asal Prancis itu telah menemukan formula ban baru yang mampu menyelesaikannya, para pembalap justru menolak penggunaannya hanya karena takut Francesco Bagnaia mendapatkan 'keuntungan tak adil'.
Dilema antara keselamatan teknis dan politik persaingan kini membuat olahraga balap paling bergengsi di dunia ini terjebak dalam aturan terburuknya sendiri.
Ban Michelin, khususnya ban depan, kembali menjadi sorotan panas di paddock MotoGP. Masalah fluktuasi tekanan angin ini sudah lama menjadi momok bagi para pembalap, mulai dari insiden penalti 16 detik yang mendera Joan Mir di Barcelona, hingga drama terbaru di Sirkuit Mandalika.
Pada balapan Sprint di Mandalika, Jorge Martin tampak kesulitan mengendalikan motornya akibat peringatan tekanan ban pada dashboard. Alhasil, ia harus rela kehilangan tempat di podium dalam balapan yang dimenangkan oleh Marc Marquez.
Masalah serupa turut dirasakan oleh Maverick Vinales yang diganjar penalti usai balapan, sementara Pedro Acosta dan Marc Marquez harus berjibaku mengatur tekanan ban saat keduanya terlibat duel sengit. Acosta akhirnya sukses mempertahankan posisi kelima di depan masa depan rekan setimnya di Ducati tersebut.
BACA JUGA:Juara di GP Indonesia 2026, Marco Bezzecchi Samai Rekor Langka Legenda MotoGP
BACA JUGA:Ikuti Jejak Formula 1, MotoGP 2026 Pertimbangkan Pindahkan GP Qatar Akibat Konflik Teluk
Kondisi ini memicu kemarahan besar dari Pedro Acosta. Pembalap berjuluk "Sang Hiu dari Mazarron" itu meluapkan kekesalannya dan menyebut regulasi tekanan ban saat ini sebagai aturan terburuk di MotoGP.
Menurut jurnalis The Race MotoGP Podcast, Simon Patterson, akar masalah dari krisis ini terletak pada spesifikasi ban Michelin saat ini yang dikembangkan menggunakan generasi motor era sebelumnya, masa di mana perangkat ride-height dan aerodinamika belum semasif sekarang.
“Ban depan Michelin generasi saat ini memiliki karakteristik yang mudah sekali memanas dan mendingin dengan sangat cepat. Ketika itu terjadi, tekanan depan akan melonjak drastis,” ujar Patterson.
“Sepeda motor MotoGP yang baru menghasilkan downforce, energi, panas, dan tekanan yang jauh lebih besar sebagai akibat dari perkembangan aerodinamika dan perangkat modern,” tambahnya.

Persaingan Marc Marquez (Kiri) dan Pedro Acosta di balapan Grand Prix Indonesia 2026--Twitter Motorsport-Magazin @MSM_Online
Ironisnya, Michelin sebenarnya sudah menemukan solusi atas masalah ini dengan merancang ban depan baru. Ban tersebut bahkan telah diuji secara ekstensif oleh Francesco Bagnaia, yang dilaporkan sangat menyukainya.
Namun, rencana adopsi ban baru tersebut kandas karena penolakan dari para pembalap lain yang khawatir rival mereka, khususnya Bagnaia, akan mendapatkan keuntungan kompetitif.
BACA JUGA:Aprilia Dominasi GP Mandalika, Ducati Bantah Desmosedici Manjakan Marc Marquez
BACA JUGA:Kecelakaan GP Indonesia Paksa Fermin Aldeguer Terbang ke Barcelona untuk Operasi
“Michelin memperkenalkan ban depan baru yang mengatasi masalah ini, dan Pecco Bagnaia mengujinya secara ekstensif dan menyukainya. Namun, pembalap MotoGP lainnya tidak ingin Pecco memiliki keuntungan, sehingga mereka memilih agar Michelin tidak memperkenalkannya,” ungkap Patterson.
“Jadi, ini adalah aturan yang harus ada demi alasan keselamatan, yang solusinya sudah ditemukan oleh Michelin, tetapi para pembalap sendiri memilih untuk tidak menerapkannya karena kekhawatiran persaingan. Beginilah situasinya sekarang,” pungkasnya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: