Masjid Temu

Masjid Temu

PENGURUS PC DMI Kecamatan Gayungan saat pelantikan di Masjid Al Badar, Jalan Kerto Menanggal, Surabaya. -Arif Afandi untuk Harian Disway -

”Kamu tahu isi surat yang dikirim ibumu ke saya saat itu? Isinya meminta saya untuk menjaga kamu agar tidak menjadi Muhammadiyah,” katanya saat beliau melayat ibu saya yang wafat setelah 10 tahun saya kuliah di Jogja.

Kini hal seperti itu sangat jarang terjadi. Apalagi untuk generasi Z sekarang. Mereka tak lagi mempersoalkan cara beragama. Karena itu, masjid pun perlu menjadi rumah bersama. Biarlah ada masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, dan masjid Al Irsyad. Tapi, itu hanya sejarah kepemilikan dan pengelolaan.

Saatnya, masjid menjadi titik temu dari berbagai kelompok umat Islam. Titik temu untuk menebar manfaat dan maslahat. Masjid yang menyatukan antarkelompok masyarakat. Masjid yang menjadi tempat interaksi dari berbagai stratifikasi sosial.

Di dalam saf salat, semua sudah berdiri sejajar. Pengusaha, pegawai, tukang parkir, dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Tak ada tempat khusus untuk orang kaya. Juga, tak ada barisan tersendiri untuk orang miskin. Semuanya menghadap ke arah yang sama.

Persoalannya, apakah kesejajaran itu selesai setelah salam? Setelah sepatu dikenakan dan kendaraan dinyalakan? Atau, bisa diteruskan menjadi kepedulian terhadap kehidupan sesama jamaah?

Saya membayangkan masjid yang tahu keadaan warga di sekitarnya. Siapa yang sedang sakit. Siapa yang anaknya terancam putus sekolah. Siapa yang kehilangan pekerjaan. Juga, siapa yang punya kemampuan untuk membantu mereka. Lantas, mempertemukan keduanya.

Bukankah itu juga pekerjaan memakmurkan masjid? Membuat orang merasa bahwa datang ke masjid berarti masuk ke lingkungan yang peduli. Tempat yang membuatnya merasa punya saudara. Apalagi, ketika kehidupan di luar sana terasa makin berat.

Anak-anak muda juga membutuhkan tempat seperti itu. Mereka hidup dalam dunia yang ramai oleh percakapan digital. Tapi, belum tentu punya teman untuk membicarakan persoalan hidupnya. Tentang pekerjaan, keluarga, atau kecemasan menghadapi masa depan.

Masjid bisa menyediakan ruangnya. Dengan pengurus yang mau mendengar. Dengan kegiatan yang memberikan kesempatan kepada mereka ikut bekerja. Mengelola informasi, membantu anak-anak belajar, atau mendampingi usaha kecil di sekitar masjid.

Tentu, hal tersebut membutuhkan cara mengelola yang berbeda. Takmir tak cukup hanya mengatur jadwal imam dan khatib. Atau, memastikan listrik dibayar dan karpet dibersihkan. Semua itu tetap penting. Tapi, ada kebutuhan jamaah yang juga perlu diurus.

Mulainya bisa sederhana. Mendata keadaan warga. Menyusun program sesuai kebutuhan. Mengajak orang yang punya kemampuan untuk terlibat. Lalu, melaporkan penggunaan uang jamaah dengan terbuka. Agar kepercayaan tumbuh bersama manfaat yang dirasakan.

Jangan sampai uang terkumpul banyak, tetapi pengurus tak tahu untuk apa digunakan selain membangun. Masjid terus dipercantik. Sementara itu, ada tetangga yang kesulitan untuk membeli makanan. Kemegahan bangunan seharusnya berjalan bersama kepedulian terhadap keadaan manusia di sekitarnya.

Di sini DMI bisa hadir. Mempertemukan pengalaman antar-takmir. Membantu memperbaiki pengelolaan. Menghubungkan masjid dengan tenaga kesehatan, pendidik, pengusaha, dan berbagai pihak yang bisa diajak bekerja. Agar setiap masjid tak harus memulai semuanya sendiri.

DMI juga perlu menjadi titik temu. Seperti yang saya lihat di Gayungan dan Sukolilo itu. Orang dari latar organisasi berbeda bisa duduk bersama. Membicarakan pekerjaan yang manfaatnya bisa dirasakan bersama.

Zaman berubah begitu cepat. Fungsi dan peran masjid pun perlu bergerak lebih luas. Dari tempat ibadah yang dulu beririsan kuat dengan paham aliran, menjadi ruang yang lebih cair. Menyentuh pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan persoalan kehidupan lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: