Laba JPMorgan Naik 6 Persen Jadi USD15,3 Miliar, tapi Meleset dari Ekspektasi
Gedung JPMorgan Chase & Co. yang berada di 270 Park Avenue, New York City.-Subman-Istock
HARIAN DISWAY – JPMorgan Chase mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal III 2026, didukung aktivitas perdagangan saham dan bisnis perbankan investasi. Namun, kinerja bank terbesar di Amerika Serikat (AS) tersebut masih berada di bawah ekspektasi analis setelah transaksi pasar modal dan perdagangan obligasi kehilangan momentum.
Laporan keuangan yang dirilis 13 Oktober 2026 menyebutkan bahwa JPMorgan membukukan laba bersih USD15,3 miliar untuk periode yang berakhir pada 30 September 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 6 persen dibandingkan USD14,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bersih naik 8 persen menjadi USD50,17 miliar.
Meski laba meningkat, laba per saham JPMorgan tercatat USD5,57, lebih rendah dibandingkan perkiraan rata-rata analis sebesar USD5,85. Reuters menyebut hasil tersebut menjadi pertama kalinya sejak kuartal IV 2023 JPMorgan gagal memenuhi ekspektasi laba analis.
Perdagangan Saham Menguat, Obligasi Melemah
Pendapatan divisi pasar JPMorgan meningkat 15 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama didorong pendapatan perdagangan saham yang melonjak 49 persen ketika investor menyesuaikan portofolio di tengah ketidakpastian suku bunga global dan kenaikan harga energi.
BACA JUGA:Pasar Global Bergejolak, Imbal Hasil Obligasi dan Data Tenaga Kerja AS Jadi Sorotan
BACA JUGA:Danantara Terbitkan Obligasi Perdana DIM, Amankan Order Senilai USD4,6 Miliar
Sebaliknya, pendapatan perdagangan instrumen pendapatan tetap, termasuk obligasi, turun 4 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan volatilitas pasar tidak memberikan dorongan yang sama terhadap seluruh lini perdagangan bank.
Biaya perbankan investasi juga memperlihatkan perlambatan secara kuartalan. Pendapatan biaya dari bisnis tersebut turun 8 persen dibandingkan kuartal II 2026, meskipun masih meningkat 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pasar penawaran umum perdana saham (initial public offering atau IPO) yang sebelumnya ramai mulai kehilangan momentum dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini berpotensi membatasi pendapatan bank dari jasa penjaminan emisi, penjualan saham lanjutan, serta pendampingan transaksi perusahaan. Meski demikian, analis menilai pasar IPO belum sepenuhnya tertutup dan sejumlah penawaran masih dapat berlangsung apabila kondisi pasar membaik.
Bisnis Kredit Konsumen Masih Menopang
Di tengah perlambatan sejumlah aktivitas pasar modal, bisnis pinjaman JPMorgan masih menunjukkan ketahanan. Pendapatan bunga bersih di luar aktivitas pasar meningkat 6 persen menjadi USD24,7 miliar, sedangkan rata-rata pinjaman tumbuh 10 persen secara tahunan.
BACA JUGA:Purbaya Sebut Pelemahan IHSG Hanya Sedikit Pengaruhi Pasar Obligasi, Minat SBN Diprediksi Pulih
BACA JUGA:Sinyal IHSG Rebound! Intip Rekomendasi Saham Cuan AI IPOT Minggu Ini
Chief Executive Officer JPMorgan Jamie Dimon menyatakan, ekonomi AS masih ditopang investasi bisnis yang kuat dan belanja konsumen yang berkelanjutan. Kondisi tersebut membantu menjaga aktivitas pinjaman, meskipun perusahaan tetap menghadapi ketidakpastian ekonomi.
JPMorgan memperkirakan pendapatan bunga bersih sepanjang 2026 mencapai sekitar USD106,2 miliar, atau USD97,2 miliar jika tidak memasukkan aktivitas pasar. Untuk 2027, bank tersebut memberikan proyeksi awal pendapatan bunga bersih di luar aktivitas pasar sekitar USD107 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: