Kualitas Udara di Surabaya Menurun, Pakar ITS Soroti Fenomena Ini
Kondisi langit di Jalan Mayjend Jonosewojo, Surabaya pada 15 Oktober 2026 pagi-grc.philip-Threads
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Berdasarkan informasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) SURABAYA pada 15 Oktober 2026, hasil pemantauan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes menunjukkan bahwa konsentrasi partikulat meter ukuran 2,5 mikron (PM2.5) sempat berada dalam kategori Tidak Sehat, terutama pada rentang waktu pukul 06.00–09.00 WIB.
Kondisi kualitas udara di Surabaya, pada Jumat, 16 Oktober 2026, menjadi perhatian di tengah cuaca panas yang belakangan ini masih melanda.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Eng Arie Dipareza Syafei ST MEPM menyoroti faktor penyebab pencemaran udara serta pentingnya upaya pengendalian untuk menjaga kualitas udara di Kota Pahlawan ini.
“Hal ini menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius,” ujar dosen Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut.
BACA JUGA:Bagaimana Sikap Presiden yang Seharusnya dalam Menangani Bencana Alam dan Kebakaran Hutan?
BACA JUGA:Kebakaran Hutan Kalimantan Melonjak 366 Persen, 4 Korporasi Besar bakal Diselidiki

Pakar ITS Dr Eng Arie Dipareza Syafei ST MEPM menyoroti penurunan kualitas udara di Surabaya-ITS -
Arie menjelaskan bahwa kualitas udara dinilai melalui pengukuran konsentrasi polutan, seperti PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran tersebut digunakan untuk menentukan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai informasi mengenai tingkat pencemaran dan risiko kesehatan.
Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM10 ditetapkan sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Sementara itu, baku mutu PM2.5 sebesar 55 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.
Arie menekankan bahwa hasil pengukuran harus disesuaikan dengan periode rata-ratanya dan bahwa kualitas udara yang memenuhi baku mutu tidak sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan kualitas udara di Surabaya tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca panas, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi.
BACA JUGA:Karhutla Jadi Ujian Perdana Nakhoda Baru BNPB, Tak Boleh Lamban Lagi
Sumber pencemar tersebut antara lain berasal dari kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran industri, dan pembakaran terbuka. Selain itu, debu fugitif dari area terbuka juga dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: