Matinya Ruang Publik dan Ironi Kota Ramah Anak
ILUSTRASI Matinya Ruang Publik dan Ironi Kota Ramah Anak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Jika Surabaya benar-benar ingin mewujudkan predikat kota ramah anak secara substantif, pemerintah harus mengembalikan hak warga atas kotanya –menjadikan trotoar bukan sekadar tempat melintas yang steril, melainkan juga ruang interaksi yang inklusif, egaliter, dan memanusiakan warganya. (*)
*) Dhahana Adi Pungkas adalah urbanist and local cultural interpreter Jurnal Biokultur Antropologi, Unair
*) Achmad Muzakky Cholily adalah antropolog, pengamat budaya Manifesto Ideas Institute.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: