Menjelajah Lautan Teduh (27): Mengenal Indonesia lewat Dolanan
PERMAINAN DO MIKADO di hanggar KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 di Suva, Fiji, yang dipandu oleh Rizkya Dwijayanti.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
’’Nggak tahu, kenapa kok kepikiran main itu. Awalnya gabut saja. Saya berpikir, bagaimana caranya open ship tidak boring,’’ ucap Rizkya, dosen yang berulang tahun saban 17 Agustus tersebut.

SLEBOR-SLEBOR, permainan tradisional anak-anak di Jawa, yang dimainkan oleh pengunjung open ship di Zuva, Fiji.-Doan Widhiandono-
Apa pun, permainan yang dicetuskannya ternyata berdampak positif. Pengunjung senang. ’’Kita juga bisa memperkenalkan permainan tradisional khas Indonesia. Khususnya dari pulau Jawa,’’ ujar Rizkya.
Dan menurutnya, permainan itu bisa memperkuat interaksi sosial antara dua negara.
Yang juga penting, slebor-slebor dan do mikado itu mengingatkan memori masa silam. Saat permainan benar-benar dilakukan bersama banyak teman tanpa harus tenggelam dalam peranti elektronika. Nostalgia itu begitu menyenangkan. Seorang prajurit TNI-AL pun sampai terharu.
Bagi warga yang berkunjung, permainan tersebut menjadi pengalaman baru.
Harus diakui, permainan tradisional memiliki kelebihan yang kadang luput dari perhatian. Ia tidak membutuhkan banyak penjelasan untuk mengundang rasa ingin tahu. Ketika seseorang mencoba, tertawa karena salah, atau berhasil mengikuti aturan permainan, komunikasi sudah berlangsung. Ada interaksi yang tidak sepenuhnya bergantung pada kata-kata.
Dalam konteks diplomasi, pengalaman kecil semacam itu punya arti. Indonesia tidak hanya hadir sebagai negara yang membawa kapal perang sekaligus kapal rumah sakit. Indonesia juga hadir dengan kebudayaan, keramahan, dan kesediaan berbagi pengalaman.

DUA DOSEN FISIP Untag Surabaya , Rizkya Dwijayanti (kanan) dan Doan Widhiandono berdialog dengan mahasiswa Vanuatu Institute of Technology di Port Vila, Vanuatu.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Tentu, satu permainan tidak serta-merta mengubah pandangan seseorang terhadap sebuah negara. Namun, diplomasi memang tak selalu harus menghasilkan perubahan besar dalam satu pertemuan. Kadang, ia dimulai dari rasa ingin tahu, pengalaman yang menyenangkan, dan percakapan sederhana setelah permainan selesai.
Di geladak kapal yang berlayar jauh dari Indonesia, permainan masa kecil itu menemukan panggung baru. Sekaligus mengingatkan kita: memperkenalkan Indonesia tak selalu harus melalui hal-hal besar. Sesuatu yang sederhana pun bisa menjadi pintu masuk untuk saling mengenal.
Lalu, apakah para dosen di bawah Subsatgas Pendidikan itu sudah menyiapkan permainan baru di negara berikutnya, Kepulauan Solomon?
Pasti…!
Tunggu saja… (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: