Menjelajah Lautan Teduh (33): Para Diaspora Kangen, Pacific Warrior Untung Gede
KANTIN PASIFIC WARRIOR diserbu para diaspora Indonesia di Honiara, Kepulauan Solomon, pada acara open ship, Minggu 18 Oktober 2026.-DOAN WIDHIANDONO-HARIAN DISWAY-
Perjumpaan para diaspora Indonesia dengan kru KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 benar-benar membawa berkah untuk kedua belah pihak. Para perantau itu bisa melepaskan rasa kangen terhadap kampung halaman. Sedangkan awak kapal rumah sakit itu—terutama yang mengelola kantin di kapal tersebut—bisa mendapatkan keuntungan yang lain…
NUR Halimah, perempuan asal Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu langsung bergegas keluar dari hanggar helikopter KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991. Dia tidak mengikuti open ship bersama kru Satgas Terpadu Port Visit 2026 secara tuntas. ’’Harus mempersiapkan pekerjaan. Yang penting sudah dapat ini,’’ ucapnya di Honiara, Kepulauan Solomon, Minggu, 18 Oktober 2026.
’’Ini’’ yang dimaksud Halimah adalah dua boks mi instan kemasan gelas. Plus satu kresek besar aneka penganan ringan. Misalnya, kerupuk pisang. Atau camilan-camilan pedas yang biasanya dijual di banyak toko di Indonesia.
Semuanya adalah ’’barang berharga’’ bagi Halimah. Sebab, memang ada sesuatu yang tidak bisa dibeli di negara seberang. Terutama, makanannya. Lebih terutama lagi: kerinduan pada makanan-makanan.
BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (32): Kapal Jadi Tempat Kangen-kangenan Diaspora
BACA JUGA:Tim PkM Untag Surabaya Kembangkan Digital Heritage Tari Tradisional di Sanggar Mugi Lestari
Seluruh barang itu dibelinya dari kantin Pacific Warrior. Itu adalah kantin sederhana yang berwujud satu etalase plus satu lemari pendingin. Plus sebuah gudang yang isinya adalah aneka dagangan. Mulai aneka minuman, makanan ringan, hingga merchandise khas KRI dr Wahidin Sudirohusodo seperti kaus, topi, hingga tumbler minuman berbentuk peluru kendali.
Halimah memang kangen betul pada makanan-makanan itu. Memang, dia baru 5 bulan bekerja di Kepulauan Solomon pada sebuah bakery. Tetapi, dia sudah 8 tahun merantau di Papua Nugini. Sekarang, Halimah berdiam di Honiara bersama Agung, sang suami, yang berasal dari Solo.
Kenapa mi instan? ’’Di sini mahal. Biasanya dijual di toko-toko milik orang Bangladesh,’’ kata Halimah.
Bukan cuma Halimah yang memborong camilan. Alifadullah, perempuan asal Indramayu, juga membeli dua plastik besar keripik pisang. Satu plastik besar berisi 20 plastik kecil. Mau pesta keripik? ’’Haha, kangen sekali. Makanya, lihat keripik di kantin, langsung kalap,’’ ujar perempuan yang didampingi Muhammad Kakung, suaminya, yang berasal dari Indramayu tersebut.

DUA BOKS MI INSTAN yang dibawa Nur Halimah dan Agung dari KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991.-DOAN WIDHIANDONO-HARIAN DISWAY-
Selain itu, ada Nanda Agustina, perempuan ayu asal Banjarmasin, yang juga memborong. Tetapi, Tina, panggilannya, membeli tiga karton susu kaleng. Yang gambarnya beruang itu. Nah, satu karton berisi 30 kaleng. Artinya, Tina membawa pulang 90 kaleng susu.
’’Untuk stok saja. Di sulit mendapatkan susu ini,’’ kata perempuan yang bekerja sebagai penanggung jawab masakan di Top Timber, perusahaan kayu besar di Solomon Island. Di perusahaan tersebut, Tina menata makanan untuk para karyawan, termasuk puluhan orang yang berasal dari Indonesia.
Tentu saja, aneka makanan kecil itu menjadi bahan candaan bagi para host acara open ship, yakni Doan Widhiandono, dosen Prodi Ilmu Komunikasi; dan Rizkya Dwijayanti, dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara. Mereka berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: