Konsumsi Air pada Data Center AI Semakin Mengkhawatirkan, Pakar ITS Ingatkan Dampaknya
Ilustrasi tampilan ruang pengadaan data center untuk AI--Bisnis Tekno
“Adapun rasio kebutuhan terhadap ketersediaan air di Pulau Jawa telah mendekati 0,4. Yang menandakan kondisi rawan krisis air,” ungkapnya.
Alumnus doktoral University of Newcastle, Inggris, tersebut khawatir terkait ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan air.
Itu dapat berdampak langsung terhadap masyarakat. Terlebih apabila sumber daya yang tersedia tidak mencukupi.
BACA JUGA:Marak Klaim Industri Ramah Lingkungan, Dosen ITS Ajak Masyarakat Berfokus pada Life Cycle Assessment
Oleh karena itu, Joni mengatakan bahwa kapasitas air yang secara nominal masih tersedia belum tentu seluruhnya dapat dimanfaatkan. Khususnya ketika terjadi penurunan pasokan pada musim kemarau.
Selain tekanan terhadap sumber daya air, Joni berpendapat ekspansi data center AI juga berpotensi meningkatkan emisi karbon. Diakibatkan tingginya konsumsi listrik.
Ia menjelaskan bahwa perhitungan dampak lingkungan perlu mencakup emisi langsung maupun tidak langsung.
“Termasuk emisi dari pembangkitan listrik yang memasok fasilitas tersebut. Serta aktivitas pendukung operasionalnya,” imbuh Rektor ITS periode 2015-2019 tersebut.

Gambaran areal pembangunan data center JKT09 Microsoft di daerah Karawang.--Microsoft
BACA JUGA:Tim Ekspedisi Patriot ITS Optimalkan Potensi Daerah Papua Barat, Ubah Limbah Jadi Sumber Energi
BACA JUGA:Gandeng ITS, Konjen AS di Surabaya Rancang Solusi Bersama sesuai Kebutuhan Indonesia lewat ASpire
Menutup penjelasannya, Joni menekankan perlunya kajian komprehensif. Kajian yang melibatkan berbagai pihak sebelum pembangunan data center dilanjutkan.
Menurutnya, pertimbangan ekonomi perlu diseimbangkan dengan kemampuan menopang kebutuhan operasional fasilitas tersebut.
“Jangan sampai kita tersandera oleh kebijakan sendiri. Hingga mengorbankan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya mengingatkan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: