Kesaksian Korban Selamat Kecelakaan di Tol Surabaya–Mojokerto: Tersadar dan Ditimpa Banyak Tangan Berdarah

Sabtu 21-05-2022,04:00 WIB
Reporter : Michael Fredy Yacob
Editor : Noor Arief Prasetyo

SURABAYA, DISWAY.ID- Kecelakaan bus wisata di tol Surabaya–Mojokerto menyisakan banyak duka. Termasuk bagi Jerry Ade Wijaya, warga Benowo. Ia selamat, tapi harus kehilangan bude dan sepupunya dalam kecelakaan tersebut. Budenya, Maftukha, meninggal di lokasi dan sepupunya, Nazwa Dwi Yuniarti, meninggal saat dirawat di rumah sakit.

---

LIBURAN telah berakhir. Saatnya Jerry Ade Wijaya kembali ke kampung halaman di Surabaya. Saat itu ia menghabiskan libur panjangnya di Dieng, Wonosobo, bersama rombongan Benowo piknik. Dua hari sudah ia berada di tempat itu. 

Pria 28 tahun tersebut pergi ke sana bersama Maftukha dan Nazwa Dwi Yuniarti. Ada juga beberapa tetangganya yang ikut. Total anggota rombongan itu 30 orang. 

Bus hijau yang membawa rombongan warga Benowo itu mulai bergerak menuju Yogyakarta sekitar pukul 16.00. Jarak Dieng ke Yogyakarta sekitar 111 kilometer. Dibutuhkan waktu 3 jam 13 menit untuk bisa sampai ke kota itu. 

Liburan itu sangat asyik. Tubuh yang lelah akibat kegiatan di Dieng sudah tidak terasa lagi. Canda gurau menjadi aktivitas para penumpang selama berada dalam perjalanan. Tanpa terasa, bus tersebut sampai di Yogyakarta.  

Target destinasi wisata yang akan dikunjungi di sama adalah Malioboro. Apes. Tempat itu dibanjiri manusia. Tempat parkir hampir tidak ada. Apalagi, untuk menampung badan bus yang sangat besar itu. 

”Kami sempat keliling cari parkiran. Lumayan lama lah kita mutar-mutar. Sampai akhirnya sekitar pukul 22.00, kami baru mendapatkan parkiran,” kata Jerry kepada Harian Disway sambil membaringkan diri di tempat tidurnya Jumat (20/5). 

Ia bersama bude dan sepupu perempuannya menikmati tempat wisata itu. Sembari mereka berkeliling mencari cenderamata untuk oleh-oleh. 

Beberapa baju dan pernak-pernik mereka bawa pulang. Nazwa sudah tidak sabar ingin mengenakan baju barunyi itu. Dia akhirnya mencari tempat untuk menukar pakaian yang digunakan. 

Cantik sekali. Pas dengan tubuh tinggi Nazwa. Walau perempuan itu baru berusia 13 tahun. Masih kelas X SMP. Hanya dua jam mereka di sana. Lalu, rombongan itu melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini tidak ada lagi kebisingan di dalam bus tersebut. 

Lampu kabin dimatikan. Suasana malam yang dingin mengantarkan semua penumpang ke alam mimpi. Bus pariwisata itu masih dikemudikan Ahmad Ari. Ia adalah sopir utama. ”Awalnya aman saja. Gak ada tanda-tanda apa pun,” ungkapnya. 

Jam digital di bus tersebut telah menunjukkan pukul 04.30. Tiba-tiba terdengar suara dari seorang lelaki. Ia minta singgah ke rest area. Ia ingin salat Subuh. Sebab, waktunya hampir habis. 

Kategori :