Sehari Susuri Trek Panjang Pendakian Gunung Argopuro; Budi Setiawan Betah di Puncak Rengganis

Rabu 14-09-2022,10:06 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

SITUBONDO, HARIAN DISWAY - Argopuro, persemayaman Dewi Rengganis. Putri Majapahit yang tersia-sia. Jejak folklor mengiring pendakian kami menuju puncaknya. Melihat keindagannya, pantas bila gunung yang memiliki trek terpanjang di Jawa itu jadi destinasi wajib bagi para pecinta alam.

Mendaki ke Gunung Argopuro dan menikmatinya, paling tidak butuh waktu lima hari. Karena jalur trek pendakiannya panjang, kira-kira 40 kilometer. 

Karena tak mungkin melakukan perjalanan selama itu, saya setuju banget ketika kawan saya Candra mengajak mendaki Argopuro selama sehari pada 2 September 2022 lalu.

Kebetulan kami sama-sama suka jogging. Jadi pendakian ini juga untuk jogging bareng. Selain kami, turut delapan kawan lain; Adit, Mail, Zaki, Gigih, Chow, Firman, Udin, Budi, dan Ce Lin.

Dari titik kumpul di Terminal Joyoboyo Surabaya, kami berangkat pukul 10 malam dengan mini bus sewaan. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, pada pukul dua dini hari, kami sampai di Base Camp (BC) Baderan, Situbondo.
Salah satu savana yang ada di jalur pendakian Gunung Argopuro.

Kami mengonfirmasi ulang perizinan pendakian setelah jauh-jauh hari ketua tim, Adit, sudah mendaftarkan rencana pendakian ini pada para petugas. Setelah semua administrasi selesai, kami mengecek perlengkapan. Rata-rata semua hanya membawa tas lari atau running vest. 

Pada pukul 3.30 pagi, dengan mobil, kami menuju lokasi start pendakian, Plaza Rengganis. Sebuah pos start pendakian Gunung Argopuro. 

Oh ya perhatikan ini. Karena rutenya yang panjang, pendaki sebaiknya melewati jalur itu karena jalurnya sudah tertata. Jika tidak, bisa tersesat.

Cukup banyak lho pendaki yang hilang di Argopuro. Rata-rata itu karena mereka tak mengikuti jalur pendakian. Memilih jalur lain atau sekadar mencoba-coba, bisa fatal. Ingat, treknya luar biasa panjang.

Jika melakukan pendakian berkelompok, usahakan terus bersama-sama. Jangan sampai terpisah. Petugas di pos pendakian awal mewanti-wanti tentang itu. Jaga sikap, jangan merusak lingkungan, jangan membuang sampah sembarangan, dan sebagainya.

Serta perhatikan cerita-cerita mistisnya. Tentu seputar Dewi Rengganis, istri Raja Majapahit yang tak diinginkan dan hantu-hantu yang mendiaminya. Tanpa dibubuhi cerita semacam itu, para pendaki, terutama mereka yang masih labil bisa seenaknya. 

Saya sih berkeyakinan bahwa cerita mistis dan semacamnya di satu sisi berguna untuk membangun kesadaran siapa saja agar menjaga sikap, lebih berhati-hati, dan tidak merusak lingkungan.

Pukul empat pagi, kami go. Suasana masih gelap. Tapi kami terus berjalan hingga menemukan gubug tak berpenghuni. Kebetulan Subuh tiba, kami berhenti untuk salat berjamaah.

Saat melihat ke arah timur, titik putih mulai tampak. Cahayanya menyebar, membias perlahan. Warna hijau daun-daun dan batang pohon meski samar telah terlihat.

Fajar menyingsing. Sejenak kami menikmati keindahan matahari yang mungkin masih mengantuk. Sinarnya masih redup. Bunyi gesek sayap serangga hutan menjadi intro mengiring simfoni pagi. Kokok ayam hutan, entah di mana ayam itu. Melengking tinggi dan panjang.
Bersama kawan-kawan pendaki Gunung Argopuro, berpose di pos pertama.

Tags :
Kategori :

Terkait