PMK Selesai, Kerapan Sapi kembali Melesat

Senin 17-10-2022,07:38 WIB
Reporter : Yusuf Dwi
Editor : Doan Widhiandono

TAK ada lagi pandemi. Tak ada pula wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang ternak seperti pada April lalu. Maka, tak ada alasan lagi untuk menghentikan budaya yang menjadi kebanggaan Madura ini: Kerapan Sapi.

Kerinduan itu telah terbayar. Tahun ini, Kabupaten Bangkalan ditunjuk sebagai tuan rumah. Ajang tersebut termasuk serangkaian acara Hari Jadi ke-77 Provinsi Jawa Timur. Para kontestan merebutkan Piala Presiden bergilir.

Masyarakat cukup antusias, sejak pagi mereka sudah berbondong-bondong memadati sisi lapangan pacu Stadion Kerapan Sapi RP Moh Noer, Bangkalan, Minggu, 16 Oktober 2022.

Festival itu dibuka dengan tari kolosal Pasemoan Kerapan Sapeh. Persembahan itu diisi oleh 100 penari dari sanggar Tarara. Tarian itu menceritakan seluruh proses kejadian karapan sapi. Mulai pemeliharaan sapi, syukuran, kirab sapi, hingga proses kemenangan sapi. 

Tak ketinggalan, para pemilik dan sapi jagoannya dikirab untuk menyapa penonton dengan iringan alat musik tradisional. 

Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Andhy Karyono mengatakan, warisan leluhur itu adalah bentuk rasa syukur serta hiburan setelah panen padi. Tak hanya perlombaan, karapan sapi juga jadi simbol untuk mengangkat martabat sosial pemilik sapi.

“Kita harus bersama-sama berpartisipasi agar kegiatan Karapan sapi ini menjadi sebuah tontonan yang menarik, unik, dan layak jual,” ujarnya. Ajang bergengsi tahunan tersebut biasanya digelar pada Agustus-September.

Para joki kerapan itu rata-rata masih SD. Kecil-kecil. Tetapi terampil. Sembari berdiri di atas gerobak kayu, mereka sama sekali tak terlihat grogi saat menaklukkan lapangan pacu sepanjang 225 meter itu.

Pelestarian budaya dari generasi ke generasi inilah yang diharapkan Andhy, ia ingin tiap tahun berjalan dengan selalu berinovasi. Selain menjaga kearifan lokal, ia berharap ajang ini bisa mengangkat wisatawan mancanegara untuk datang ke Pulau Garam.

“Dengan begitu bisa menjadi pemicu peningkatan kunjungan wisata, perekonomian semakin naik, dan kesejahteraan bagi masyarakat Madura,” kata Andhy.

Sebanyak 24 pasang sapi yang berlomba itu dari Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep. Masing-masing wilayah membawa 6 pasang.

BACA JUGA:Syukuran Lewat Kerapan Sapi

Sapi yang bertanding juga mendapat makanan khusus. Mereka minum jamu dan telur ayam agar sapi punya fisik dan energi besar di hari perlombaan.

“Kegiatan ini diikuti oleh pemenang Kerapan Sapi hasil seleksi tingkat kabupaten se-Madura pada tahun 2020 yang tertunda selama dua tahun,” kata M. Gunawan Saleh, Kepala Badan Koordinasi Wilayah Pamekasan. 

Tahun ini, ada persyaratan tambahan yang harus dipenuhi para peserta. Mengingat adanya penyebaran virus PMK. Sapi yang dilombakan harus mendapat rekomendasi dari pejabat otoritas veteriner. Selain itu, surat kesehatan hewan dan surat keterangan vaksin minimal ke-1 menjadi syarat mutlak mengikuti lomba.

Kategori :