Mobil Listrik Tiongkok Kian Meroket pada 2023; Pembeli Riil

Selasa 10-01-2023,21:15 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Doan Widhiandono

Mobil listrik Tiongkok sudah merajai pasar dunia. Tetapi, mereka masih punya ambisi besar pada 2023. Model-model anyar bermunculan. Pembeli mobil pun riil.

 

DALAM 11 bulan pertama 2022, penjualan mobil listrik—baik yang murni elektrik atau hibrida—mencapai 6,07 juta unit. Itu berdasar data Asosiasi Pabrikan Mobil Tiongkok.

 

Data hingga Desember memang belum dirilis. Tetapi, asosiasi itu memperkirakan bahwa tak kurang dari 6,7 juta unit mobil yang terjual. Meningkat dari ’’hanya’’ 3,5 juta unit pada 2021. Artinya, seperempat dari penjualan mobil di Tiongkok adalah mobil listrik.

 

Padahal, menguasai 25 persen penjualan mobil secara total itu ditargetkan tercapai pada 2025. ’’Target ini tercapai lebih cepat tiga tahun dari seharusnya,’’ kata Wu Zhixin, wakil direktur Pusat Penelitian dan Teknologi Otomotif Tiongkok.

 

Menurutnya, penjualan mobil listrik itu pasti bisa mencapai 9 juta unit pada 2023.

 

Apa yang membuat mobil listrik begitu laris? Ada banyak faktor, kata Wu.

 

Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi yang tak disangka-sangka pada 2022. Sehingga, tingkat konsumsi masyarakat masih meningkat. Faktor lain adalah kebijakan pemerintah yang menguntungkan untuk pengguna mobil listrik. Misalnya, pemotongan pajak hingga kebebasan melintasi jalan mana pun tanpa terpengaruh aturan yang biasanya untuk mencegah kemacetan.

 

Lalu, yang juga menggiurkan adalah banyaknya model-model baru mobil listrik. Lucu-lucu. Canggih. Warga pun bisa memilih mobil apa pun yang sesuai dengan karakteristik mereka.

 

Data dari China EV 100, sebuah lembaga riset mobil listrik, menunjukkan bahwa dalam semester pertama 2022 saja sudah ada 33 tipe mobil listrik yang meluncur. Artinya, itu 60 persen dari seluruh tipe mobil yang dijual pada periode tersebut.

Sampai semester pertama 2022 saja, secara keseluruhan sudah ada 300 model mobil listrik yang ada di pasaran. Itu sekitar sepertiga dari seluruh tipe mobil di Tiongkok.

 

Yang menggembirakan, 78 persen pembeli mobil listrik adalah orang kebanyakan. Benar-benar riil. Pembeli privat. Bukan pemerintah yang sedang memborong mobil listrik untuk mengganti mobil dinas yang lama. Bukan pula dari program-program pemerintah lain, yang tujuannya memang mengerek produksi mobil listrik.

 

Namun, pembeli mobil listrik di Tiongkok ya memang orang yang ingin punya mobil listrik.

 

Hal itu diungkapkan oleh Guan Mingyu, peneliti lembaga konsultan manajemen McKinsey, dalam rilis resminya. Menurut mereka, produsen mobil listrik Tiongkok benar-benar dirangsang oleh minat warga yang terus berkembang. ’’Perkembangannya menjadi positif, sangat di luar dugaan. Dampaknya, pembeli mobil listrik di Tiongkok itu riil,’’ tegas mereka.


LINI PRODUKSI mobil BYD di Xi’an, Provinsi Shaanxi, pada April 2022, yang tampak sibuk.-China Daily-

 

Sebelumnya, Tiongkok memberikan subsidi bagi pembeli mobil listrik pada 2009. Pasar pun terus meningkat. Produksi meroket. Sehingga, pemerintah memutuskan untuk tidak lagi menyubsidi pembelian mobil listrik pada akhir 2022.

 

Efek kebijakan itu mungkin akan terasa pada awal 2023. Menurut William Li, CEO Nio, banyak orang yang memang ramai-ramai membeli mobil listrik pada akhir 2022. Hanya agar bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah. Ia memperkirakan bahwa penjualan pada bulan-bulan pertama 2023 akan seret.

 

Bagaimanapun, Li tetap optimistis pada penjualan mobil listrik selama setahun ke depan. Ia bahkan menargetkan Nio, perusahaannya, bisa mengalahkan penjualan Lexus, brand premium Toyota, tahun depan.

 

Saat ini, Lexus memang salah satu merek mewah populer di Tiongkok. Ia ada di peringkat keempat. Setelah BMW, Mercedes, dan Audi.

 

Pada Januari-November 2022, Lexus menjual 168.644 mobil. Turun 16,45 persen ketimbang tahun lalu. Sedangkan Nio bisa menjual 120 ribu mobil.

 

Dengan begitu, Nio harus bisa meraup penjualan setidaknya dua kali lipat tahun lalu jika ingin memantapkan posisi di papan atas mobil terlaris.

 

Menurut Bill Peng, yang juga bekerja di lembaga McKinsey, Nio bisa menang. Sebab, pembeli mobil listrik tidak cerewet soal pilihan merek. Berbeda dengan pemakai mobil BBM yang bisa sangat fanatik pada merek. (Doan Widhiandono)

Kategori :