Subsidi Menyusut, Penjualan Mobil Listrik di Tiongkok Tertekan: Bisa Kembali ke Bensin…?
BYD SEAL 06 EV ketika dipamerkan di Shanghai International Automotive Industry Exhibition, 23 April 2025.-Retamal-AFP-
Pasar otomotif Tiongkok kembali berada di persimpangan jalan. Setelah lima tahun terakhir melaju dengan motor listrik, tahun ini arah kemudi berpotensi sedikit berbelok.
PERUBAHAN skema subsidi kendaraan oleh Beijing membuat kalkulasi konsumen bergeser. Mobil listrik yang selama ini menjadi simbol masa depan, kini harus berhadapan dengan realitas baru. Insentif menyusut, tekanan profitabilitas pun makin nyata.
Nominal penyusutan subsidi itu sebenarnya ’’kecil’’ saja. Rata-rata 8 ribu yuan atau sekitar Rp19,4 juta. Tapi, itu sudah cukup untuk mengubah perilaku pasar.
Momentum pertumbuhan kendaraan listrik—baik yang murni atau hybrid—terancam melambat. Sehingga, mobil berbahan bakar bensin pun berpotensi menyalip di tikungan kebijakan.
BACA JUGA:Mobil Listrik Tiongkok Melonjak 40 Persen
BACA JUGA:Tesla Drop, Kalah Bersaing dengan Mobil Listrik Tiongkok
“Mobil berbahan bakar minyak akan merebut kembali pangsa pasar tahun ini,” ulas Zhao Zhen, direktur penjualan di dealer Shanghai Wan Zhuo Auto yang dikutip South China Morning Post.
“Merek-merek mobil listrik berada di bawah tekanan besar untuk mendongkrak penjualan.” Artinya, diler mobil benar-benar gelisah. Dan di diler itulah keputusan konsumen benar-benar diuji.
Data dari China Passenger Car Association (Asosiasi Penjualan Mobil Penumpang Tiongkok) menunjukkan bahwa dalam 11 hari pertama tahun ini, penjualan kendaraan listrik di Tiongkok daratan mencapai 117.000 unit. Itu setara 35,7 persen dari total Penjualan Mobil nasional.
Angka itu jauh di bawah tingkat penetrasi kendaraan listrik yang mencapai 54 persen sepanjang 2025. Kontras tersebut memberi sinyal awal bahwa laju mobil listrik tak lagi secepat sebelumnya.

MOBIL XIAOMI dipamerkan di Beijing, 1 Juli 2025.-GREG BAKER-AFP-
Akar persoalannya memang terletak pada skema subsidi baru. Mulai 1 Januari, pembeli mobil listrik untuk keperluan penggantian kendaraan lama hanya memperoleh subsidi sebesar 12 persen dari harga mobil baru. Dan batas maksimum subsidinya adalah 20 ribu yuan.
Kebijakan itu diterapkan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional bersama Kementerian Keuangan Tiongkok. Sementara itu, pembeli mobil bensin mendapat subsidi 10 persen dengan batas maksimum 15 ribu yuan atau sekitar Rp36,4 juta.
Pada dua tahun sebelumnya, subsidi masih ’’jomplang.’’ Konsumen bisa memperoleh subsidi tetap 20 ribu yuan untuk mobil listrik atau sekitar Rp48,6 juta. Sementara mobil bensin tetap di angka 15.000 yuan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: