FGD Bank Indonesia, Akademisi, dan Peneliti (1): Mengelola Mitos, Mendorong Optimisme

Senin 31-07-2023,20:51 WIB
Oleh: Bagong Suyanto

DI tengah perkembangan isu-isu perekonomian nasional dan global yang kompleks, sejumlah akademisi dan peneliti lembaga riset diundang Bank Indonesia dalam forum focus group discussion (FGD) akademisi dan lembaga riset. FGD mendiskusikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Juli 2023 dan Capacity Building Indikator Statistik Bank Indonesia. Acara FGD yang diselenggarakan pada 27 dan 28 Juli 2023 dihadiri sekitar 25 akademisi dan 20 peneliti bidang ekonomi. 

Acara diskusi yang diselenggarakan di Hotel Grand Mercure, Malang, berlangsung menarik dan seru. Mereka mengupas berbagai isu ekonomi yang sedang hangat. Saya sendiri diundang sebagai salah seorang peserta yang diharapkan terus menulis isu-isu ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia di media massa.

Para peserta yang hadir, antara lain, Prof Marsuki dari Universitas Hasanuddin, Makassar; Prof Haryo Kuncoro dari Universitas Negeri Jakarta; Prof Mansur Afifi dari Universitas Mataram; Prof Nugroho dari Universitas Diponegoro, Semarang; dan Prof Abdul Mongid dari Universitas Hayam Wuruk. 

Ada pula perbankan Surabaya, Dr Agus Herta Sumarto dari Universitas Mercu Buana Jakarta, Dr Imron Rosyadi dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta; Prof Rahma Sugihartati dan Prof Jusuf Irianto dari FISIP Universitas Airlangga, Surabaya; Dr Rudy Badrudin dan Dr Suparmono dari STIE YKPN; serta para kolumnis bidang ekonomi yang selama ini biasa ditemui di kolom opini berbagai media massa.

Acara FGD dibuka Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono. Dalam suasana yang akrab dan renyah di malam pertama acara berlangsung, Erwin memaparkan sejumlah mitos yang selama ini muncul di dunia perekonomian, khususnya yang berkaitan dengan tugas Bank Indonesia sebagai penjaga stabilitas keuangan nasional. 

Alumnus International University of Japan dan master di bidang economics international development pada 1998 itu memaparkan bahwa di balik lahirnya kebijakan Bank Indonesia, sering kali yang harus dihadapi adalah mitos-mitos yang lebih dipengaruhi sugesti daripada kenyataan. 

Ketika masyarakat percaya bahwa nilai tukar rupiah turun, misalnya, bukan tidak mungkin yang terjadi posisi rupiah benar-benar akan turun jika dibandingkan dengan mata uang negara lain. Sebaliknya, ketika masyarakat optimistis dengan kemajuan dan laju pertumbuhan ekonomi nasional, jangan kaget jika yang terjadi adalah peningkatan kinerja perekonomian yang menggembirakan. 

Membangun kepercayaan dan optimisme masyarakat, menurut Erwin, adalah tugas kita bersama.

 

Mengelola Mitos

Bagi Bank Indonesia, manajemen isu adalah salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Melalui manajemen isu, Bank Indonesia diharapkan mampu mengelola beragam isu yang ada, kemudian menjadikannya sebagai kesempatan dan peluang untuk meningkatkan reputasi organisasi dan kinerja perekonomian nasional. 

Kebijakan Bank Indonesia tidak mungkin steril dari interpretasi politik dan psikologis masyarakat yang berbeda-beda. Untuk mencegah agar kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia tidak mengalami distorsi, dibutuhkan peran akademisi dan peneliti untuk memperkuat dan memberikan argumentasi ilmiah guna memastikan apa yang dikerjakan Bank Indonesia sudah pada relnya ataukah belum.

Selama satu-dua tahun terakhir, diakui atau tidak, kondisi perekonomian nasional masih tergolong baik. Di balik kondisi perekonomian global yang cenderung menurun disertai dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tetap baik. Angka pertumbuhan ekonomi dilaporkan masih berkisar 5 persen, bahkan lebih. Prestasi tersebut tentu membanggakan dan perlu dikembangkan lebih lanjut.

Selama ini neraca pembayaran Indonesia (NPI) boleh dikata kuat dan sedikit banyak mendukung ketahanan eksternal. Dengan langkah-langkah stabilisasi yang dikembangkan Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga dengan baik di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. 

Bank Indonesia (BI) menyatakan, perekonomian Indonesia ke depan optimistis lebih baik bila dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya di tengah tingginya ketidakpastian global. Kenaikan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia itu terutama didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi. Investasi menjadi salah satu kunci utama agar perkembangan usaha di Indonesia tidak jalan di tempat –apalagi mengalami penurunan. Sedangkan inflasi perlu terus dikendalikan agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kategori :