Demokrasi Fandom

Selasa 21-11-2023,06:00 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

DAHLAN ISKAN sempat putus asa dengan platform media sosial. Saat ia masih menjadi menteri BUMN di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karena itu, ia meninggalkan twitland dengan kecewa.

Mengapa? Sebagai pejabat yang media darling saat itu, follower-nya langsung berjibun. Apalagi, setelah di-endorse oleh Najwa Shihab, anchor TV yang populer lewat Mata Najwa. Ia pun aktif ngetwit tentang apa saja. Khususnya terkait tugas dan perannya.

BACA JUGA: Jazz Moderasi

Tapi, ia jengah. Sebab, yang mengomentarinya ternyata bukan hanya akun riil. Banyak akun bot. Yang isinya terkadang sama. Yang tak jarang berisi caci maki. Bukan diskusi sesuai dengan substansi. Tentu orang waras tak akan telaten meladeni.

Berbagai platform sudah berusaha mengatasi itu. Dengan membuat regulasi yang membatasi pesan yang bisa diunggah. Mereka terus mengembangkan algoritmanya. Yang membuat berbagai unggahan kebencian tak bisa tayang. Algoritma itu menggantikan fungsi rapat redaksi di media konvensional.

BACA JUGA: Capres-Cawapres: Deklarasi Kesabaran

Seperti banyak orang tahu, algoritma adalah sekumpulan instruksi atau langkah-langkah yang dituliskan secara sistematis. Algoritma digunakan untuk menyelesaikan masalah atau persoalan logika secara matematis dalam dunia komputer atau platform digital.

Algoritma itu berfungsi semacam dewan redaksi dalam media konvensional. Ia yang menyaring, menyeleksi, dan meloloskan sebuah tulisan atau gambar bisa terpublikasikan atau tidak. Yang menyeleksi apakah pesan tulisan atau gambar bisa viral atau tidak. Hanya, semuanya dilakukan oleh mesin. Bukan manusia.

BACA JUGA: RS Jimpitan NU

Manusia yang memprogram mesinnya. Manusia yang menciptakan algoritmanya. Misalnya, dulu Facebook masih bebas mengunggah berita politik atau kampanye kandidat untuk pemilihan presiden atau legislatif. Kini algoritma Facebook tak bisa lagi leluasa siapa pun mengunggah pesan dan gambar yang berisi kampanye politik.

Lima tahun lalu, berita palsu, gambar sadis, dan ujaran kebencian masih marak di pelbagai media sosial. Kini algoritma sudah dikembangkan sehingga bisa menyeleksi berbagai pesan dan gambar yang dianggap tak senonoh dan berbahaya. Mesin algoritma –yang disusun secara global– yang menyeleksinya secara otomatis.

Tapi, karena mesin, sentuhan manusiawinya menjadi berkurang. Siapa pun masih bisa mencari celah algoritma agar pesan-pesan politik yang bersifat kebencian, fitnah, dan bahkan berita palsu bisa lolos dalam paltform media sosial. Akhirnya, media sosial menjadi media dengan redaksi mesin dan tanpa ada mekanisme konfirmasi maupun cek dan ricek sebelum tayang. 

Kebangkitan platfom media sosial itu telah melahirkan kepemimpinan baru di dunia politik di seluruh dunia. Presiden AS Barack Obama dikenal sebagai kepala negara pertama yang lahir dari penggunaan media sosial sebagai media kampanye secara masif. Banyak lahir pemimpin populis dunia sejak revolusi teknologi digital.

Tapi, ada sisi gelap dari revolusi digital dalam jagat politik. Selain memperluas spektrum kebebasan berpendapat dan berkespresi, juga melahirkan kristalisasi kelompok-kelompok berdasar orientasi dan emosi politik. Algoritma bisa menghasilkan polarisasi dan konflik politik makin mengkristal.

Kenapa bisa demikian? Algoritma bisa menyaring informasi sesuai dengan minat dan preferensi penggunanya. Ada kecenderungan mereka yang bersikap oposisi akan cenderung hanya terpapar dari sikap politik yang oposan. Demikian pula sebaliknya. Jika paparan berlangsung lama, polarisasi dan konflik akan kian mengental. 

Kategori :