Di tangan orang yang tepat, sampah tetap bisa punya nilai berharga. Punya nilai jual yang tinggi. Itulah yang dilakukan oleh Muhammad Bayu Panji Saputra, seorang siswa SD di Surabaya. Ia mengubah popok bayi bekas menjadi bahan pot bunga. Ia dibimbing komunitas Tunas Hijau. Binaan Bank Mandiri.
AKHIR pekan bukanlah waktu untuk bersantai bagi Bayu. Di saat itu, siswa kelas 6, SDN NgindenJangkungan I itu selalu mendatangi tempat pembuangan akhir (TPA) Jasmine Gunung Anyar. Di sana ia mau mengambil popok bekas. Hanya popok bayi.
Jarak TPA itu sekitar 5,4 kilometer dari rumah sewaan orangtuanya di kawasan Jalan Nginden Baru VI G, Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo. Tentu,Bayu didampingi oleh sang ibu: Rizqi Safitri. Mereka kesana menggunakan sepeda motor.
Setibanya di sana, Bayu dan Rizqi langsung disambut oleh petugas. Popok bayi bekas pakai sudah ada di dalam karung. Sudah dipisahkan oleh petugas. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan: menyiapkan popok bayi bekas pakai yang hanya terkena kencing bayi.
“Saya tidak mau mengambil popok yang ada bekas buang air besar. Karena susah dibersihkannya. Saya hanya ambil yang bekas kencing. Itu juga hanya popok bayi. Bukan popok orang dewasa,” kata Bayu saat ditemui seusai sekolah, Senin 17 Februari 2025.
Semua sampah popok itu diberikan secara gratis kepada Bayu. Juga sudah dipisahkan dengan sampah lainnya. Ya, hanya popok. “Mereka senang. Karena, kalau saya tidak ambil, mereka harus bayar Rp 100 ribu tiap minggu hanya untuk buang popok,” ungkap cowok kelahiran Malang, 18 September 2012, itu.
BACA JUGA: Tunas Hijau Sapu Bersih Kaki Suramadu
Setiap kali, Bayu mengambil sekitar 60-80 kilogram sampah popok. Ia bawa semampunya. Bolak-balik.
Selain dari TPA, sampah popok itu juga mereka dapatkan dari seluruh Posyandu di Kelurahan Nginden. Ada juga dari tetangga mereka yang memiliki bayi.
“Tetangga pasti akan hubungi ibu untuk mengambil sampah popok, kalau ada. Saya atau ibu yang kesana ambil. Jadi, semakin banyak yang kami olah untuk dijadikan kerajinan tangan. Saya senang,” kata anak tunggal pasangan Teguh Krismanto dan RizqiSafitri itu.
Semua sampah popok itu dibawa ke sekolah Bayu. Rumah sewaan mereka memang sangat dekat dengan SDN Nginden Jangkungan I. Hanya sekitar 250 meter. Kalau jalan kaki, sekitar 8-10 menit. Itu kalau lewat depan sekolah. Kalau lewat pintu belakang sekolah hanya lima menit.
BACA JUGA: LPS Jamin Danantara Tak Akan Ambil Saldo Nasabah BRI, BNI, hingga Mandiri
Produksi awalnya memang tidak di rumah sewaan mereka. Melainkan di sekolah Bayu. Sebab, rumah sewaannya itu sangat kecil. Hanya berukuran kisaran 3x4 meter. Tidak ada ruang untuk mereka produksi semua popok tersebut.
Produksi awal dilakukan di sekolah tempat Bayu menimba ilmu. Di situ, ia membersihkan popok, mengeluarkan kapas dari dalam popok, mencuci dan merendam popok dengan menggunakan campuran tertentu untuk menghilangkan bau apeknya, sampai menjemur.
Para siswa menunjukkan proses produksi ekoenzim.-Alfi Kirom-Harian Disway-
Terkadang, teman dan guru-guru Bayu pun ikut membantu semua proses itu. Kalau semua proses tadi tidak selesai di akhir pekan, ia akan melanjutkan saat hari sekolah. Tentu, setelah jam pulang sekolah. Sekitar pukul 12.00. Ia kerjakan sampai pukul 17.00.